Kamis, 30 November 2017

Meet the Doctor

Holaaaa! Ini sudah tahun 2017.
Seperti tahun-tahun sebelumnya ke belakang, saya tersadar kalau saya menulis di blog ini cuma sekali dalam setahun. Karena ternyata postingan terakhir saya memang sudah setahun yang lalu. Kebiasaan buruk! Hahaha.

Jadiii, di postingan terakhir itu tercatat kalau saya baru saja bertunangan dengan (mantan) pacar yang pacarannya baru berjalan kurang dari 3 bulan saja waktu ini. Daaan, bulan ini, saya dan suami sudah masuk ke usia pernikahan ke 7. Bulan loh yaaa, belum tahun. Hehehe. Masih sangat mudaaa usia pernikahannya, masih anget-angetnya kalo kata orang-orang sih masih rasa bulan madu. Meskipun yaaa tipikal awal-awal pernikahan, semua yang sudah menikah pasti pernah merasakannya; sedih karena harus pisah dengan keluarga yang selama belasan bahkan puluhan tahun hidup bersama, banyak hal bertentangan yang akhirnya memicu pertengkaran kecil, dan bumbu-bumbu lain di masa-masa awal pernikahan. Omelan, ngedumel, unek-unek, kesel, gemes, geregetan, daaaan lain lain sering banget muncul. Tapi, sejauh ini saya menikmatinya.

Oke, saya sekarang mau cerita tentang perjalanan pernikahan saya yang baru seumur jagung (lebih sedikit) (note: umur jagung rata-rata 135 hari) ini. Jadi, dalam 7 bulan perjalanan pernikahan saya ini, saya masih mengalami menstruasi dengan lancar. Loh? Terus?
Yak, itu artinya, saya belum mendapatkan "isi" yang selalu orang-orang tanyakan itu sama saya. Jujur aja, pertanyaan sesederhana "udah isi belum?" itu menjadi pertanyaan paling menyebalkan bagi saya. Saya tahu mereka peduli, mereka ingin mendengar kabar bahagia dari saya dan suami, meskipun banyak juga yang cuma sekedar kepo dan basa-basi. Tapi pertanyaan sesederhana itu sungguh melukai perasaan saya. Toh, bukan saya kan yang menentukan kapan saya bisa ber"isi". Sesungguhnya ada yang lebih berkuasa daripada saya untuk menentukan kapan saya bisa menjawab seluruh pertanyaan itu. Pada waktu saya menjawab "belum," sambil tersenyum simpul, ada yang menimpali dengan kata-kata "aduh kasian.." Rasanya hati saya nyuuuuttt banget. Sakit. Memangnya saya kenapa sampai harus dikasihani?

Saya baru menginjak usia pernikahan ke-7 bulan, tapi rasanya saya depresi sekali setiap kali mendengar pertanyaan serupa seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya para pasangan lain yang bertahun-tahun diuji oleh Allah belum diberikan keturunan tapi tetap bisa tersenyum menghadapi ribuan pertanyaan serupa, mungkin sudah banyak juga omongan negative terlontar dari orang-orang, tapi tetap berpositive thinking pada Yang Berkuasa. Apalah saya yang baru saja menjalani bulan ke-7 pernikahan tapi sudah sangat stress dengan pertanyaan seperti itu.

Belakangan ini, saya jadi terbiasa menghindar dari postingan teman-teman saya di social media yang memposting tentang cerita kehamilan mereka. Daripada saya merasa iri dan akhirnya malah menjadi suudzon sama Allah, lebih baik saya menghindarinya. Mungkin, Allah memang belum berkehendak saja untuk menitipkan salah satu makhlukNya ke keluarga kecil kami.

Ada yang pernah bilang, ada baiknya jodoh itu dijemput. Begitu pun soal "berjodoh" dengan calon anak yang akan lahir di keluarga kita. Salah satu cara menjemput "jodoh" itu tentu saja dengan ikhtiar.

Bulan Februari lalu adalah kali ke-3 saya menemui dokter obgyn. Bukan untuk memeriksa kandungan, tapi untuk memeriksa sinyal-sinyal "php" yang sering saya rasakan sejak bulan pertama menikah sampai sekarang. Sebulan setelah saya menikah, saya dan suami bulan madu ke Bali. Saat itulah php pertama saya rasakan. Perut bagian bawah saya terasa kram seperti sedang haid hingga 2 minggu setelah kami pulang dari Bali. Penasaran karena sakitnya tidak kunjung reda, saya menemui dokter obgyn untuk memeriksanya. Sempat geer sekali, sumringah berharap kehamilan, tapi ternyata harus menelan pil pahit kecewa karena hasil usg menunjukkan bahwa rahim saya masih kosong.

Bulan dan bulan berikutnya, setiap menjelang haid saya selalu merasakan yang sama. Kram perut di bagian bawah, mual muntah, pusing, badan ngedrop which is kalau temen saya bilang, tanda-tanda orang hamil banget. Tapi lagi-lagi saya harus merasa sedih karena pada waktu melakukan test pack garisnya masih menunjukkan satu. Lemes. Sementara teman-teman saya yang lain dengan senangnya mengupload foto testpack 2 garis mereka di socmed, saya lagi-lagi harus membuang testpack 1 garis saya ke tempat sampah. Sedih. Awal-awal sedih banget, bahkan setiap kali datang haid pasti saya langsung menangis sambil meluk suami. Lama-lama akhirnya jadi sudah "agak" terbiasa dengan gejala-gejala sama yang saya alami. Meskipun tetep aja dalam hati terbesit, "please, not this php things again..." karena ternyata lelah merasa php itu. Php muncul karena saya yang berharap terlalu tinggi. :( Hingga besitan-besitan hati yang berharap, "semoga yang kali ini beneran hamil.." meskipun akhirnya harus kecewa lagi karena si mens datang lagi.

Tapi, usaha insyaallah tidak akan pernah putus. Setelah menemui dua dokter obgyn yang berbeda dan berkonsultasi tentang program kehamilan, bulan lalu untuk ketiga kalinya saya bertemu dengan dokter lain yang direkomendasikan oleh teman saya yang juga pada awalnya cukup lama "kosong" sampai pada akhirnya hamil. Saya mendatangi seorang dokter obgyn yang cukup populer di Bandung yaitu dr. Maximus Mujur. Hasil dari konsultasi itu juga, dokter cuma bilang bahwa saya sehat, baik-baik saja, hanya perlu perbaikan pola makan supaya bisa segera lekas hamil. Pulang dari sana, saya sama suami cuma diminta untuk "semakin mencintai satu sama lain", biar katanya pas lagi "memadu kasih" itu sama-sama menikmati, selain itu kita juga diminta untuk bisa lebih mencintai Tuhan kita. Karena Tuhan-lah yang nantinya akan meniupkan ruh ke dalam rahim saya, jadi untuk itu dekati Tuhan pemegang ruh, supaya kita juga bisa dapet kesempatan untuk dipercaya jadi orangtua.

Setelah denger apa kata dokter, dan saya melihat ke belakang, ternyata memang pola hidup saya sama sekali belum teratur, dan semua yang dokter bilang itu seolah menampar saya. Tapi nyatanya setelah sebulan-dua bulan- konsultasi dengan dokter Maximus, saya masih belum bisa maksimal menjalankan semua nasihat-nasihat medisnya. Bulan berikutnya dan bulan berikutnya lagi, saya berusaha untuk buat janji dengan dokter Maximus tapi selalu gak berjodoh, karena dokternya selalu pas gak praktek pas saya datang ke rumah sakit. Sampai rasanya lelah, apa memang belum saatnya untuk lanjut promil ya?

Sampai tulisan ini ditulis, saya masih bingung. Harus dengan cara apa lagi saya coba promil?



Senin, 21 Maret 2016

Welcoming A Brand New Life

Kaget juga saat liat postingan terakhir di blog ini, ternyata hampir satu tahun lalu, bulan Mei di tahun 2015. Kalo diliat-liat, kayaknya saya bikin postingan di blog ini cuma sekali setahun, abis itu ngilang, hahaha.

Judul blog kali ini, "Welcoming A Brand New Life" karena memang, ternyata dalam kurun waktu hampir satu tahun ini saya sudah melewati beberapa fase waktu yang cukup menguras air mata, tapi alhamdulillah sampai detik ini saya mengetik tulisan ini, saya akan mulai menyambut kehidupan baru yang insya Allah bahagia, aamiin.

Jadi begini ceritanya. Ehm, bakal agak panjang sih yaa kayaknya soalnya update-annya tentang setahun ke belakang sih. Tapi diringkas aja kali yaaaa.

A brand new life ini, dimulai saat saya alhamdulillah akhirnya bisa berkunjung ke Baitullah. Pergi umroh bareng kedua orang tua. Unforgettable moment banget, bakal saya inget terus sampai kapan pun. Karna pergi umroh ini juga ada sejarahnya (#halah). Berangkatnya saya umroh karena sempet ada kejadian sebelumnya yang menguras air mata saya dan ibu saya, dan akhirnya papa ngajak saya umroh bareng supaya bisa berdoa bareng disana, katanya. Supaya semua keinginan dan kegalauan langsung diadukan sama Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu langsung di sana, di rumah Allah.

A brand new life ini, mungkin jawaban atas doa-doa kedua orang tua saya di sana, dan doa orang-orang yang sayang sama saya. Saya yakin banget, doa saya bisa dikabulkan sama Allah itu karena doa-doa orang lain yang ikut mendoakan saya. Alhamdulillah, kalau inget itu rasanya saya gak pernah bisa berhenti mengucap syukur. Allah Maha Baik.


Jadiiiiiiiiiiiii,
Apa sih my brand new life ituuuu?


Jadi, tepatnya seminggu sepulang dari saya umroh itu, I met a guy. Kalau first impressionnya temen saya, dia bilang "He's a nice guy with a sweet smile," And I couldn't agree more :)
Dia bakal geer sih kalo baca ini, tapi untungnya dia gak pernah blogging. Hahaha.

Singkatnya, satu bulan setengah jalan akhirnya kita merasa cocok satu sama lain, terus ternyata pas dikenalin ke orangtua masing-masing, mereka juga cocok-cocok aja. Malah menganjurkan segera dilanjut ke jenjang yang lebih serius aja.

Rada kaget juga sih, secara kenal juga baru sebulan lebih trus tiba-tiba udah disuruh nikah aja. Saya sama si doi sempet saling tanya-tanyaan juga apakah ini terlalu cepet atau ngga. Tapi setelah diskusi ini itu ternyata emang prosesnya cepet banget dari yang saya perkirakan. Ketemu akhir bulan januari, terus tanggal 9 Maret 2016 lalu akhirnya keluarga dia dateng untuk melamar secara resmi.

Karena keluarga tunangan (cie tunangan :p) saya jauh, dari Cirebon, jadi pertemuan keluarga pertama di Bandung itu langsung ke acara lamaran.


Sssst, ini rahasia ya. Tunangan saya itu bukan tipe cowok yang romantis, malah bisa dibilang cuek bangeeeeet, tapi rabu pagi tanggal 9 Maret 2016 sebelum acara lamaran itu dia berhasil bikin saya nangis lewat postingannya di Path. Dia posting foto cincin tunangan kita di atas itu dengan caption "ketika matahari, bulan dan bumi sejajar, kita sejajarkan juga tujuan kita. bismillah."
Pas baca itu entah kenapa saya tiba-tiba langsung mewek, huhuhu. Secara dia itu orangnya cuek dan jarang ungkapin apa yang ada di kepalanya terang-terangan, jadi sekalinya ngomong kata-kata yang nyentuh hati itu rasanya langsung nyesss gitu kena hati. Hahaha.
Dan yang bikin saya makin mewek adalah deretan doa yang menyertai dari adanya postingan itu. Alhamdulillah banget, temen-temen saya, temen-temen dia, semua banyak yang mendoakan.

itu dia tuh si pemilik sweet smile :p
with my lovely parents <3
Acara lamaran berlanjut dengan pembicaraan keluarga mengenai tanggal dan persiapan untuk pernikahan. Waktu itu tanggal pernikahan belum fix karena jaman sekarang ini yaaa mau bikin acara harus ngikutin tanggal gedung. Jadi gak bisa tuh nentuin tanggal sesuai dengan keinginan kalau waktunya udah mepet banget. Kalau mau dapet tanggal cantik harus booking dari setahun sebelumnya. Fiuhhh! Kelamaan.
Jadi, tanggal berapapun oke asal gedungnya ada! Hahaha. Daripada pusing-pusing nyari tanggal cantik tapi gedungnya gak sesuai harapan kan, mending cari gedung yang sesuai harapan dengan tanggal yang bisa menyesuaikan. Toh semua hari baik. 

Alhamdulillah, sekarang tanggal dan gedung sudah fix. Alhamdulillah tanggal dan gedungnya sesuai dengan yang diharapkan. Saya kasih bocoran tanggal nanti aja kalau udah deket hari H yaaaa.

Aaahh, tapi rasanya masih lama banget. Udah gak sabaaaaar! Hahaha.

From us with love, xoxo

Rabu, 06 Mei 2015

Mimpi Ke Luar Negeri



Udah 2015! Yeaaaay!!
Udah bulan ke 5 juga sih (-__-") tapi ya biarin lah ya. Better late than never kan ya. Hihihi.

Saya baru buka lagi blog yang udah usang dan berdebu ini dan memutuskan untuk ngoceh lagi disini. Agak malu juga sih baca postingan-postingan lama karena isinya yang alay dan bikin sakit mata. Tapi saya adalah orang yang paling anti menghapus foto-foto lama ataupun tulisan-tulisan lama karena menurut saya itu adalah bagian dari sejarah hidup saya #tsah---sealay dan semembikinmuntah(?)nya postingan saya. Jadi saya keep everything in the place.

Nah ngomong-ngomong sebelum saya mau cerita tentang judul yang udah saya tulis di paling atas, rada mau curhat bin curcol dulu nih. Saya gak ngerti gimana caranya ganti background blog saya yang super duper alay ini. "Maaaaak, toloooong!" Duh, maaf ya karena saya agak kurang melek sama hal-hal kayak beginian. Dibilang gaptek gak juga sih (sebenernya lebih ke: gengsi kalo dibilang gaptek), tapi kalo udah urusan sama yang gini-ginian saya memang gak ahli. "Tinggal cari di Google Neng, banyak tutorialnya!" mungkin temen saya bakal teriak kayak gitu di kuping saya, tapi saya gak mau ribet cari-cari sendiri, pengennya yang praktis AJAH.

So, kalo ada yang mau jadi sukarelawan editin bekron saya, saya akan dengan senang hati memberikan hadiah terindah berupa ucapan terima kasih. *nyengir*


End of Curcol

Oke, jadi sesuai dengan judul, mengawali tulisan saya di tahun 2015 ini saya pengen cerita soal mimpi-mimpi saya tentang dunia luar di luar negara Indonesia--a.k.a luar negeri. Sebenernya udah lama banget pengen nulis ini, tapi baru kesampean sekarang karena saya sok sibuk.

Semua orang pasti punya mimpi untuk ke luar negeri. Apalagi orang Indonesia yang hobi pamer foto-foto di luar negeri buat diupload ke sosmed instagram, path, facebook, dll dll. Bagi sebagian besar orang, pergi ke luar negeri adalah sebuah pencapaian, sebuah prestasi. Pun bagi saya. Tapi kalau bagi saya, pergi ke luar negeri itu sebagai perwujudan dari mimpi-mimpi masa remaja saya. Saya masih ingat waktu dulu saya menulis mimpi-mimpi saya dalam urutan 1-100 di buku diari kumal saya. Setiap kali satu mimpi saya terwujud, saya akan mencoret satu per satu list itu. Salah satu mimpi saya waktu itu adalah: "pengen naik pesawat ke luar negeri."

Dari sekedar tulisan yang dulu kayaknya impossible banget buat terwujud, dan terkesan muluk-muluk, siapa yang sangka kalau ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Tahun 2011 tepatnya bulan Maret, akhirnya saya berhasil mencoret satu impian itu karena mimpi saya terwujud. Saya terbang ke Singapura untuk pertama kalinya. Seneeeeeeeeng banget, deg-degan sampai gak bisa tidur sehari sebelumnya membayangkan penerbangan pertama saya.

ini waktu lagi nunggu MRT

udah pada tau dong ini dimana? Yup, Esplanade.

Orchard Road!

Duh, maafkan ya kalau fotonya rada-rada alay dan norak. Maklum baru pertama kali nginjek luar negeri. Hahaha. (sebenernya saya suka banget ngeliat foto-foto saya di atas soalnya itu bukti kuat kalau saya pernah kurus. #loh berarti sekarang?????)
Jadi foto-foto norak saya di atas adalah kali pertama saya ke luar negeri. Asli deh kayak orang udik banget. Di bandara gagap, pas nginjek Changi Airport kayak orang gila cengo tercengang ngeliat bandara yang bagus. Trus malah kebayang adegan AADC pas Cinta ngejar-ngejar Rangga (padahal beda bandara). Ya intinya satu kata deh: NORAK. Lebih norak lagi waktu ngeliat kotanya ternyata rapi banget gak kayak kota-kota di Indonesia.  Takjub deh pokoknya.

Pengalaman ke Singapura itu diikuti dengan perjalanan berikutnya ke Singapura juga di tahun 2012 bulan Mei. Kali ini udah gak seudik kali pertama. Hahaha. Tapi masih udik juga sih waktu masuk ke Universal Studio yang wahananya canggih-canggih. Padahal emang udah dasarnya udik.


Mei 2012, Singapore
Tahun 2013 saya gak dapet kesempatan untuk ke luar negeri dikarenakan gak ada kesempatan (halah). Baru di tahun 2014, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya yang udah diidam-idamkan banget sejak pertama kali nginjek lantai kampus sastra Universitas Padjadjaran. Ke Jepang! Sebagai lulusan sarjana Sastra Jepang, gak afdol kayaknya kalo nggak terjun langsung ke negara yang udah membuat saya berjibaku(?) selama 4 tahun lebih di bangku kuliah dan dipusingkan dengan tugas-tugas berkanji-keriting-yang-bikin-otak-keriting.

Jadi akhirnya, saya bisa mencoret satu daftar mimpi saya lagi di diari kumal saya. Ini foto-foto narsis saya waktu di Jepang.


Daikakuji Temple bersama seluruh rombongan

Arashiyama, Kyoto

ini di sekitar tempat tinggal saya di kawasan Nishinari-ku, Osaka

Universal Studio Japan

mejeng sama taksi Jepang.
kalau di sana taksinya pake mobil yang agak tua,
beda dengan di Indonesia yang rata-rata taksinya mobil-mobil baru

Tahun 2014 kemarin ditutup dengan trip saya ke Bangkok, Thailand. Cuma berkeliling di sekitar Bangkok aja, yang kotanya, udaranya, macetnya, tata kotanya, penduduknya agak mirip dengan ibukota kita tercinta, Jakarta. Tapi kerennya mereka sudah punya MRT dan monorail. Gak seperti Indonesia yang omdo belum punya transportasi umum seperti itu.

akhirnya bisa ketemu sama 'aa' Leonardo Di Caprio

biar keliatan di Thailandnya jadi foto pose beginian

ini di Museum Art in Paradise Bangkok

Wat Arun, Bangkok

Pengalaman meluarnegeri(?) saya memang gak sebanyak teman-teman saya dan terkesan "ecek-ecek". Mungkin yang lain ada yang bakal bilang, "baru segitu aja udah bangga". Tapi bagi saya--sekali lagi--ini adalah perwujudan mimpi-mimpi masa remaja saya yang akhirnya terealisasi. Bukan sebuah pencapaian, bukan ajang pamer, tapi justru jadi tolak ukur saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya yang lain. Jadi suatu saat nanti saya bisa menertawakan tulisan norak ini, atau tersenyum-senyum mengenang mimpi kecil yang jadi kenyataan ini, karena suatu saat di masa depan nanti saya sudah menggenggam mimpi yang lebih besar. Aamiin. Keliling dunia! Tentu itu jadi mimpi semua orang, termasuk saya. 

Dan saya belajar satu hal berharga, ternyata mimpi yang terkesan muluk-muluk itu suatu hal yang menjadi kenyataan esok hari. The power of dream. Tanpa kita sadari, semesta ikut mengamini doa-doa kecil kita dan membantu kita untuk mewujudkan satu per satu.

So, mimpi luar negeri saya berikutnya adalah: Mecca, Europe (Germany, Paris, Nederland), Turkey, etc etc.

Resolusi saya tahun 2015 adalah: pergi ke luar negeri setiap tahun. 

Ini tahun 2015, dan saya belum punya rencana apapun di tahun ini. Tapi, who knows? Nanti di akhir tahun tahu-tahu saya sudah di Berlin, Jerman, atau di Mekkah untuk ibadah umroh. *ngucap amin keras-keras*


Keep dreaming.

Tetap bermimpi, ya. 

Jumat, 09 Mei 2014

Blue Macaws

Princess,
Maybe in another life time we can both be ants or something.

Shouldn't be too complicated.

Two ants who love each other very much.
Stay away from the humans.

That shouldn't be complicated at all.

Or

We can be birds.
uh- like the Blue Macaws.
Those are nice.
They have families.
Like Rio.
In the Amazon.


See?
They are beautiful.
Maybe everything won't be this complicated.

I love you.

I'm not kidding though.

In another lifetime, I'll be looking for you.
I promise.

I will love you.
I promise.


-------------------------

...and I cried. Hard.




Minggu, 13 April 2014

di belakang

Bagian yang paling tidak saya sukai dari perpisahan adalah perasaan sepi, kosong, sendirian ketika orang yang meninggalkan kita benar-benar sudah pergi. "Ditinggalkan" selalu menyisakan perasaan tidak enak. Sakit, malah. Tentu beda dengan "tertinggal", bukan? Karena kalau kita tertinggal, kita masih bisa mengejar. Sementara kalau ditinggalkan, artinya kita benar-benar dilepaskan di suatu tempat di belakang, sementara orang lain pergi melanjutkan perjalanan tanpa kita. Meski sangat ingin mengikuti langkah orang yang meninggalkan kita, kita tak punya daya. Seolah-olah punggung yang berjalan meninggalkan kita itu berkata, "jalannya sudah beda. Kamu berhenti disini saja. Saya mau lanjut perjalanan yang baru. Kamu pasti bisa jalan sendirian dari sini, kok. Seperti saya juga akan mulai berjalan sendirian dari sini. Kamu, aku, bisa. Kita bisa,". Simpel. Lalu dia melambaikan tangan tanpa beban, dan membalikkan punggung.

Nyatanya saya hanya bisa diam dan menatap lama punggung itu. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Karena tidak ada lagi punggung yang bisa saya kejar. Ataupun langkah yang bisa saya sejajari.

Jalanan ini cuma satu. Tidak bercabang ataupun memutar. Dan saya tahu dimana tujuannya. Saya juga tahu berapa lama lagi waktu yang harus saya tempuh untuk sampai di ujung jalan. Masalahnya, saya tidak punya si pemilik punggung yang biasa saya kejar lagi, ataupun langkah-langkah yang kadang cepat ataupun lambat yang bisa saya jejeri lagi--seperti kata saya tadi. Kalau jalan sendirian, rasanya tidak asyik. Tidak ada teman mengobrol, teman mengoceh mengomentari apapun yang tertangkap mata, teman beristirahat sejenak saat kaki lelah, atau teman untuk sekedar bercanda melepas bosan saat menyusuri jalanan.

Jadi, saat dia bilang dia mau pergi, saya cuma bisa berdiri, berjongkok, lalu berdiri lagi. Tidak bisa bergerak maju untuk berusaha mengejarnya, ataupun meneriakinya untuk berhenti dan menyuruhnya menunggu saya. Saya cuma diam gak bergerak. Bibir yang biasanya ngoceh panjang lebar pun mendadak kelu. Saat saya sadar, punggungnya yang sangat saya sukai itu sudah hilang ditelan garis horizon. Sekarang sudah terlambat buat mengejarnya. Mungkin dia sudah sampai di garis finish dan sedang tertawa bangga atas kemenangannya. Kemenangan yang pada awalnya kita angankan raih berdua tapi pada akhirnya dia ambil sendiri dengan meninggalkan saya di belakang.

Egois, memang. Itu yang selalu saya bilang sama dia. Tapi katanya, kalau saya tidak belajar untuk berjalan sendiri, saya bakal terus jadi anak manja yang bisanya cuma nguntit di belakang punggung dia. Saya bilang, kalau saya jatuh saya harus pegang siapa? Pegang apa? Dia jawab kalau saya bakal nemu pegangan baru, yang lebih kuat. Saya nggak bisa, harus berhenti disini, itu katanya. Nggak ada lagi kita, katanya lagi. Kamu, aku, jalan sendiri mulai sekarang ya? Nggak jauh lagi, kok.

Apa saya menangis saat dia pergi?
Sudah bosan. Sampai-sampai rasanya saya lupa bagaimana caranya menangis.
Saya jongkok lagi. Menatap bekas sepatunya yang membentuk jejak langkah menjauh dari tempat saya berdiri tadi.

Sudah benar-benar pergi, ya? Kasih tau saya, saya harus kemana dari sini? Tau sih, tinggal lurus saja. Tapi jalan lurus pun terasa membingungkan kalau kamu nggak ada.

Mau menangis boleh?
....tapi takut kamu marahi.

Menunggu kamu balik ke sini boleh?
....kamu pasti jawab enggak.

Hey. (teriak dalam hati)
Menengok pun kamu tidak.

Minggu, 14 Juli 2013

Menyenandungkan Rindu

FIKSI


Apa kabar?

Hufft. Kedua kata itu kembali menari-nari di kepalaku.
Mengapa sebaris kalimat itu bisa mempengaruhiku sampai
seperti ini? Aku menarik nafas panjang, mencoba
menenangkan debaran hati yang tak bisa tenang tiap kali
kata-kata itu terngiang di telingaku. Kupegangi kedua sisi
cangkir cappucinoku, mencoba mengalirkan kehangatan pada
tubuhku yang entah mengapa tiba-tiba menggigil
kedinginan. Aku menghisap cappucinoku dalam-dalam, lalu
cairan hangat mulai mengalir melintasi tenggorokanku
menuju dada. Ahh, hangat.

Di luar masih hujan. Tetesan air hujan memerciki jendela
tempat aku memandang lurus menembus hujan. Lalu tanpa
diminta, memori di kepalaku berputar cepat seperti film
yang sedang di-rewind . Tempat ini, selalu saja menjadi
tempat yang tak pernah bisa aku lupakan. Sekeras apapun
aku berusaha untuk menjadikan tempat ini sebagai bagian
dari masa lalu, namun pada akhirnya usahaku itu hanya
akan membawaku kembali ke tempat ini, mencoba untuk
memunguti kepingan-kepingan kenangan yang mungkin
masih bisa aku kenang. Terkadang hanya dengan mengenang,
aku bisa kembali menghadapi dunia lagi, memberi sedikit
kekuatan meski untuk itu aku harus membuka-buka lagi
luka lama.

Tapi kali ini, keputusanku untuk kembali kesini nampaknya
adalah keputusan yang salah. Karena sejak 3 jam lalu aku
duduk disini, hatiku tak kunjung membaik. Luka lama yang
biasanya cepat menutup kembali, kali ini malah menganga
makin lebar. Seharusnya aku tidak kesini hari ini, terutama
setelah adanya kejadian seminggu lalu itu. Tapi lagi-lagi
aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak kembali kesini.
Tetes terakhir cappucino di gelasku sudah mengering. Aku
menatap jendela, rasanya ingin menangis. Tapi mungkin air
mataku sudah mengering seperti kopi dalam cangkirku itu,
karena sejak tadi mataku tak kunjung mengucurkan air
mata padahal hatiku ngilu sekali dan sepertinya hanya bisa
sembuh bila aku mengalirkannya lewat air mata.

“Maaf mas, bisa minta cappucinonya lagi?” tanyaku pelan
saat seorang waitress melintasi mejaku.
Waitress itu menatapku agak heran. “Maaf mbak, tapi
mbak sudah menghabiskan 4 cangkir cappucino sejak tadi,”
ujarnya.
Aku mengangkat alis. “Lalu?”
“Maaf mbak, saya tidak bermaksud lancang, tapi saya
perhatikan mbak belum makan apa-apa sejak tadi. Jadi
saya sarankan mbak jangan minum kopi lagi. Saya khawatir
lambung mbak akan terganggu,”
Aku menghela nafas. Aku ingin mendebat waitress itu tapi
aku tak punya cukup tenaga. “Kalau begitu saya pesan air
putih saja,”
“Baik, mbak. Bagaimana kalau saya bawakan juga cake atau
puding?”
“Nggak usah mas, makasih.”
“Baik mbak akan segera saya bawakan air putih.” Waitress
itu menganggukkan kepalanya lalu kembali meninggalkanku
sendirian.

Hujan di luar masih belum berhenti juga, malah semakin
deras. Angin dingin menyergap masuk melalui kisi-kisi
jendela di sampingku. Biasanya di saat-saat seperti ini ada
tangan-tangan hangat menggosok punggung tanganku, atau
mendekapku mendekat untuk mengalirkan kehangatan. Ahh,
seperti biasa aku selalu tak bisa mencegah memori-memori
itu merasuki kepalaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku,
mencoba menepisnya. Namun semakin aku mencoba,
semakin bayangan-bayangan itu memenuhi kepalaku.
Aku tak akan pernah bisa melupakan suaranya. Bahkan
setelah setahun kepergiannya, aku masih bisa mengingat
jelas caranya memanggil namaku, atau saat mengucapkan
kata-kata yang bisa membuat hatiku melambung. Aku sudah
hampir bisa melupakannya, ingin memulai hidup yang baru
karena akhirnya aku sadar bahwa aku telah menyia-
nyiakan setahun hidupku hanya untuk meratapi
kepergiannya. Aku sudah benar-benar melupakannya
seminggu yang lalu, sebelum akhirnya panggilan itu datang.
Sebuah telepon dari nomor tak dikenal masuk ke
handphone ku. Aku mengangkatnya, dan ketika mendengar
suara sapaan dari seberang, aku tahu bahwa ternyata aku
belum benar-benar bisa melupakannya.

“Apa kabar?”
Aku menahan nafas ketika mendengar suaranya. “Abi?”
“Iya Nanda. Ini aku, Abi.”
Mataku memanas. Bahkan setalah 1 tahun, suaranya sama
sekali tidak berubah. Suara yang teramat sangat aku
rindukan.
“Aku harus bicara sama kamu, Nan. Kita harus ketemu.
Kamu mau kan?”
Aku terdiam. Lalu tanpa pikir panjang aku langsung
menutup telepon, kemudian memandangi handphone ku
dengan mata berair dan tangan gemetar. Lalu selama hari-
hari berikutnya aku selalu mengabaikan semua panggilan
darinya, menghapus semua sms masuk darinya tanpa
membacanya, dan akhirnya mulai berani membuang satu
persatu benda kenangan darinya agar tak lagi bisa
mengingat dirinya. Karena seharusnya ia tidak datang lagi.
Seharusnya ia sudah hilang ditelan waktu. Kenapa kali ini
dia harus kembali lagi? Padahal aku sudah berhasil menutup
rapat-rapat luka lamaku. Kenapa dia harus kembali lagi di
saat aku sudah bisa mengenyahkan semua bayang-
bayangnya?

Aku menarik nafas panjang. Mencoba menghilangkan sesak
yang kembali menghimpit dada.
“Permisi, mbak. Ini air putihnya.”
Suara seorang waitress mengembalikanku lagi dari lamunan.
“Oh iya mas, makasih.” ujarku tanpa menoleh.
“Ternyata masih belum berubah, ya. Tempat duduk yang
sama, jendela yang sama, cappucino yang sama..”

Aku mengangkat kepalaku dengan cepat. Lalu menemukannya
di sana, dengan senyum yang sama sama sekali belum
berubah, masih sehangat dulu.
“Apa kabar, Nan?”
Sesaat tadi aku tidak menyadari suaranya, tapi ketika
suaranya kembali menggaungi telingaku, aku sadar bahwa
ini bukan mimpi.
Ia duduk di hadapanku setelah meletakkan air putih di
meja, kemudian menatapku.
“Seharusnya aku tau kemana harus nyari kamu, Nan. Aku
sama sekali gak berpikir kalo kamu bakal kembali ke
tempat ini. Aku pikir kamu pasti gak akan kembali kesini
karena dulu kamu pernah bilang kalau kamu ingin melupakan
segala sesuatu tentang aku. Tapi ternyata aku salah.
Karena ternyata semuanya masih belum berubah. Tempat
ini masih menjadi tempat dimana aku bisa menemukan
kamu.” Senyumnya mengembang. Lalu matanya berkeliling
memandang setiap sudut kafe itu dengan pandangan penuh
kenangan.

Aku menutup mata, merasakan ngilu merayapi sudut-sudut
hatiku. Aku memang tak seharusnya ada disini. Aku harus
pergi, karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah
bisa melepaskannya lagi.
Aku membereskan barang-barangku secepat mungkin,
memasukkannya asal saja ke dalam tasku, lalu bangkit
berdiri.

“Nanda!” Abi menahan tanganku. “Tolong jangan
ngehindarin aku terus. Aku harus bicara sama kamu, Nan.”
Aku menepis tangannya. “Aku nggak tau apa yang ngebawa
kamu kesini lagi. Tapi yang jelas aku udah gak punya urusan
lagi sama kamu. Jadi maaf, aku harus pergi.”
“Nanda, tunggu!”
Aku bergegas menuju kasir untuk membayar semua
pesananku tanpa menghiraukan jumlahnya lalu setengah
berlari menuju pintu keluar.
Air mataku nyaris tumpah. Melihatnya lagi membuatku
semakin goyah.

Saat aku mencoba berlari menerobos hujan, Abi berhasil
menangkap tanganku. Ia menarikku menghadapnya.
“Nanda,” Abi menghela nafasnya yang agak tersengal.
“Lepasin tangan aku, Bi.”
Abi menguatkan pegangan tangannya di lenganku. “Kamu
gak tau kan gimana frustasinya aku seminggu ini? Tolong
dengerin aku kali ini aja, Nan. Tolong jangan ngehindar
lagi,”
“Lepas!” Aku memberontak.
Abi menarik tanganku yang satunya. “Nanda... aku kangen
sama kamu,”
Aku menatap matanya, lalu menemukan sesuatu yang dulu
selalu kutemukan setiap kali ia mengatakan bahwa ia
mencintaiku.

“Aku kangen kamu, Nan.”

Air mataku tiba-tiba menetes.
Aku juga kangen kamu, Bi.

Jumat, 17 Mei 2013

Right from the start you were a thief you stole my heart. And I your willing victim. I let you see the part of me that weren't all that pretty. And with every touch you fixed them.