Minggu, 13 April 2014

di belakang

Bagian yang paling tidak saya sukai dari perpisahan adalah perasaan sepi, kosong, sendirian ketika orang yang meninggalkan kita benar-benar sudah pergi. "Ditinggalkan" selalu menyisakan perasaan tidak enak. Sakit, malah. Tentu beda dengan "tertinggal", bukan? Karena kalau kita tertinggal, kita masih bisa mengejar. Sementara kalau ditinggalkan, artinya kita benar-benar dilepaskan di suatu tempat di belakang, sementara orang lain pergi melanjutkan perjalanan tanpa kita. Meski sangat ingin mengikuti langkah orang yang meninggalkan kita, kita tak punya daya. Seolah-olah punggung yang berjalan meninggalkan kita itu berkata, "jalannya sudah beda. Kamu berhenti disini saja. Saya mau lanjut perjalanan yang baru. Kamu pasti bisa jalan sendirian dari sini, kok. Seperti saya juga akan mulai berjalan sendirian dari sini. Kamu, aku, bisa. Kita bisa,". Simpel. Lalu dia melambaikan tangan tanpa beban, dan membalikkan punggung.

Nyatanya saya hanya bisa diam dan menatap lama punggung itu. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Karena tidak ada lagi punggung yang bisa saya kejar. Ataupun langkah yang bisa saya sejajari.

Jalanan ini cuma satu. Tidak bercabang ataupun memutar. Dan saya tahu dimana tujuannya. Saya juga tahu berapa lama lagi waktu yang harus saya tempuh untuk sampai di ujung jalan. Masalahnya, saya tidak punya si pemilik punggung yang biasa saya kejar lagi, ataupun langkah-langkah yang kadang cepat ataupun lambat yang bisa saya jejeri lagi--seperti kata saya tadi. Kalau jalan sendirian, rasanya tidak asyik. Tidak ada teman mengobrol, teman mengoceh mengomentari apapun yang tertangkap mata, teman beristirahat sejenak saat kaki lelah, atau teman untuk sekedar bercanda melepas bosan saat menyusuri jalanan.

Jadi, saat dia bilang dia mau pergi, saya cuma bisa berdiri, berjongkok, lalu berdiri lagi. Tidak bisa bergerak maju untuk berusaha mengejarnya, ataupun meneriakinya untuk berhenti dan menyuruhnya menunggu saya. Saya cuma diam gak bergerak. Bibir yang biasanya ngoceh panjang lebar pun mendadak kelu. Saat saya sadar, punggungnya yang sangat saya sukai itu sudah hilang ditelan garis horizon. Sekarang sudah terlambat buat mengejarnya. Mungkin dia sudah sampai di garis finish dan sedang tertawa bangga atas kemenangannya. Kemenangan yang pada awalnya kita angankan raih berdua tapi pada akhirnya dia ambil sendiri dengan meninggalkan saya di belakang.

Egois, memang. Itu yang selalu saya bilang sama dia. Tapi katanya, kalau saya tidak belajar untuk berjalan sendiri, saya bakal terus jadi anak manja yang bisanya cuma nguntit di belakang punggung dia. Saya bilang, kalau saya jatuh saya harus pegang siapa? Pegang apa? Dia jawab kalau saya bakal nemu pegangan baru, yang lebih kuat. Saya nggak bisa, harus berhenti disini, itu katanya. Nggak ada lagi kita, katanya lagi. Kamu, aku, jalan sendiri mulai sekarang ya? Nggak jauh lagi, kok.

Apa saya menangis saat dia pergi?
Sudah bosan. Sampai-sampai rasanya saya lupa bagaimana caranya menangis.
Saya jongkok lagi. Menatap bekas sepatunya yang membentuk jejak langkah menjauh dari tempat saya berdiri tadi.

Sudah benar-benar pergi, ya? Kasih tau saya, saya harus kemana dari sini? Tau sih, tinggal lurus saja. Tapi jalan lurus pun terasa membingungkan kalau kamu nggak ada.

Mau menangis boleh?
....tapi takut kamu marahi.

Menunggu kamu balik ke sini boleh?
....kamu pasti jawab enggak.

Hey. (teriak dalam hati)
Menengok pun kamu tidak.

Minggu, 14 Juli 2013

Menyenandungkan Rindu

FIKSI


Apa kabar?

Hufft. Kedua kata itu kembali menari-nari di kepalaku.
Mengapa sebaris kalimat itu bisa mempengaruhiku sampai
seperti ini? Aku menarik nafas panjang, mencoba
menenangkan debaran hati yang tak bisa tenang tiap kali
kata-kata itu terngiang di telingaku. Kupegangi kedua sisi
cangkir cappucinoku, mencoba mengalirkan kehangatan pada
tubuhku yang entah mengapa tiba-tiba menggigil
kedinginan. Aku menghisap cappucinoku dalam-dalam, lalu
cairan hangat mulai mengalir melintasi tenggorokanku
menuju dada. Ahh, hangat.

Di luar masih hujan. Tetesan air hujan memerciki jendela
tempat aku memandang lurus menembus hujan. Lalu tanpa
diminta, memori di kepalaku berputar cepat seperti film
yang sedang di-rewind . Tempat ini, selalu saja menjadi
tempat yang tak pernah bisa aku lupakan. Sekeras apapun
aku berusaha untuk menjadikan tempat ini sebagai bagian
dari masa lalu, namun pada akhirnya usahaku itu hanya
akan membawaku kembali ke tempat ini, mencoba untuk
memunguti kepingan-kepingan kenangan yang mungkin
masih bisa aku kenang. Terkadang hanya dengan mengenang,
aku bisa kembali menghadapi dunia lagi, memberi sedikit
kekuatan meski untuk itu aku harus membuka-buka lagi
luka lama.

Tapi kali ini, keputusanku untuk kembali kesini nampaknya
adalah keputusan yang salah. Karena sejak 3 jam lalu aku
duduk disini, hatiku tak kunjung membaik. Luka lama yang
biasanya cepat menutup kembali, kali ini malah menganga
makin lebar. Seharusnya aku tidak kesini hari ini, terutama
setelah adanya kejadian seminggu lalu itu. Tapi lagi-lagi
aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak kembali kesini.
Tetes terakhir cappucino di gelasku sudah mengering. Aku
menatap jendela, rasanya ingin menangis. Tapi mungkin air
mataku sudah mengering seperti kopi dalam cangkirku itu,
karena sejak tadi mataku tak kunjung mengucurkan air
mata padahal hatiku ngilu sekali dan sepertinya hanya bisa
sembuh bila aku mengalirkannya lewat air mata.

“Maaf mas, bisa minta cappucinonya lagi?” tanyaku pelan
saat seorang waitress melintasi mejaku.
Waitress itu menatapku agak heran. “Maaf mbak, tapi
mbak sudah menghabiskan 4 cangkir cappucino sejak tadi,”
ujarnya.
Aku mengangkat alis. “Lalu?”
“Maaf mbak, saya tidak bermaksud lancang, tapi saya
perhatikan mbak belum makan apa-apa sejak tadi. Jadi
saya sarankan mbak jangan minum kopi lagi. Saya khawatir
lambung mbak akan terganggu,”
Aku menghela nafas. Aku ingin mendebat waitress itu tapi
aku tak punya cukup tenaga. “Kalau begitu saya pesan air
putih saja,”
“Baik, mbak. Bagaimana kalau saya bawakan juga cake atau
puding?”
“Nggak usah mas, makasih.”
“Baik mbak akan segera saya bawakan air putih.” Waitress
itu menganggukkan kepalanya lalu kembali meninggalkanku
sendirian.

Hujan di luar masih belum berhenti juga, malah semakin
deras. Angin dingin menyergap masuk melalui kisi-kisi
jendela di sampingku. Biasanya di saat-saat seperti ini ada
tangan-tangan hangat menggosok punggung tanganku, atau
mendekapku mendekat untuk mengalirkan kehangatan. Ahh,
seperti biasa aku selalu tak bisa mencegah memori-memori
itu merasuki kepalaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku,
mencoba menepisnya. Namun semakin aku mencoba,
semakin bayangan-bayangan itu memenuhi kepalaku.
Aku tak akan pernah bisa melupakan suaranya. Bahkan
setelah setahun kepergiannya, aku masih bisa mengingat
jelas caranya memanggil namaku, atau saat mengucapkan
kata-kata yang bisa membuat hatiku melambung. Aku sudah
hampir bisa melupakannya, ingin memulai hidup yang baru
karena akhirnya aku sadar bahwa aku telah menyia-
nyiakan setahun hidupku hanya untuk meratapi
kepergiannya. Aku sudah benar-benar melupakannya
seminggu yang lalu, sebelum akhirnya panggilan itu datang.
Sebuah telepon dari nomor tak dikenal masuk ke
handphone ku. Aku mengangkatnya, dan ketika mendengar
suara sapaan dari seberang, aku tahu bahwa ternyata aku
belum benar-benar bisa melupakannya.

“Apa kabar?”
Aku menahan nafas ketika mendengar suaranya. “Abi?”
“Iya Nanda. Ini aku, Abi.”
Mataku memanas. Bahkan setalah 1 tahun, suaranya sama
sekali tidak berubah. Suara yang teramat sangat aku
rindukan.
“Aku harus bicara sama kamu, Nan. Kita harus ketemu.
Kamu mau kan?”
Aku terdiam. Lalu tanpa pikir panjang aku langsung
menutup telepon, kemudian memandangi handphone ku
dengan mata berair dan tangan gemetar. Lalu selama hari-
hari berikutnya aku selalu mengabaikan semua panggilan
darinya, menghapus semua sms masuk darinya tanpa
membacanya, dan akhirnya mulai berani membuang satu
persatu benda kenangan darinya agar tak lagi bisa
mengingat dirinya. Karena seharusnya ia tidak datang lagi.
Seharusnya ia sudah hilang ditelan waktu. Kenapa kali ini
dia harus kembali lagi? Padahal aku sudah berhasil menutup
rapat-rapat luka lamaku. Kenapa dia harus kembali lagi di
saat aku sudah bisa mengenyahkan semua bayang-
bayangnya?

Aku menarik nafas panjang. Mencoba menghilangkan sesak
yang kembali menghimpit dada.
“Permisi, mbak. Ini air putihnya.”
Suara seorang waitress mengembalikanku lagi dari lamunan.
“Oh iya mas, makasih.” ujarku tanpa menoleh.
“Ternyata masih belum berubah, ya. Tempat duduk yang
sama, jendela yang sama, cappucino yang sama..”

Aku mengangkat kepalaku dengan cepat. Lalu menemukannya
di sana, dengan senyum yang sama sama sekali belum
berubah, masih sehangat dulu.
“Apa kabar, Nan?”
Sesaat tadi aku tidak menyadari suaranya, tapi ketika
suaranya kembali menggaungi telingaku, aku sadar bahwa
ini bukan mimpi.
Ia duduk di hadapanku setelah meletakkan air putih di
meja, kemudian menatapku.
“Seharusnya aku tau kemana harus nyari kamu, Nan. Aku
sama sekali gak berpikir kalo kamu bakal kembali ke
tempat ini. Aku pikir kamu pasti gak akan kembali kesini
karena dulu kamu pernah bilang kalau kamu ingin melupakan
segala sesuatu tentang aku. Tapi ternyata aku salah.
Karena ternyata semuanya masih belum berubah. Tempat
ini masih menjadi tempat dimana aku bisa menemukan
kamu.” Senyumnya mengembang. Lalu matanya berkeliling
memandang setiap sudut kafe itu dengan pandangan penuh
kenangan.

Aku menutup mata, merasakan ngilu merayapi sudut-sudut
hatiku. Aku memang tak seharusnya ada disini. Aku harus
pergi, karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah
bisa melepaskannya lagi.
Aku membereskan barang-barangku secepat mungkin,
memasukkannya asal saja ke dalam tasku, lalu bangkit
berdiri.

“Nanda!” Abi menahan tanganku. “Tolong jangan
ngehindarin aku terus. Aku harus bicara sama kamu, Nan.”
Aku menepis tangannya. “Aku nggak tau apa yang ngebawa
kamu kesini lagi. Tapi yang jelas aku udah gak punya urusan
lagi sama kamu. Jadi maaf, aku harus pergi.”
“Nanda, tunggu!”
Aku bergegas menuju kasir untuk membayar semua
pesananku tanpa menghiraukan jumlahnya lalu setengah
berlari menuju pintu keluar.
Air mataku nyaris tumpah. Melihatnya lagi membuatku
semakin goyah.

Saat aku mencoba berlari menerobos hujan, Abi berhasil
menangkap tanganku. Ia menarikku menghadapnya.
“Nanda,” Abi menghela nafasnya yang agak tersengal.
“Lepasin tangan aku, Bi.”
Abi menguatkan pegangan tangannya di lenganku. “Kamu
gak tau kan gimana frustasinya aku seminggu ini? Tolong
dengerin aku kali ini aja, Nan. Tolong jangan ngehindar
lagi,”
“Lepas!” Aku memberontak.
Abi menarik tanganku yang satunya. “Nanda... aku kangen
sama kamu,”
Aku menatap matanya, lalu menemukan sesuatu yang dulu
selalu kutemukan setiap kali ia mengatakan bahwa ia
mencintaiku.

“Aku kangen kamu, Nan.”

Air mataku tiba-tiba menetes.
Aku juga kangen kamu, Bi.

Jumat, 17 Mei 2013

Right from the start you were a thief you stole my heart. And I your willing victim. I let you see the part of me that weren't all that pretty. And with every touch you fixed them. 
 
 

Make A Move?

This morning after blurted out everything on my mind to myself, suddenly I feel like crying.
Many thoughts in my mind now..
About how I keep regretting my decisions
About how I wish I could restart my life from the start
About how I should manage my future
About my last love which was hurting me so bad but I still couldn't just move on
About everything.

But life is too short to regret on.
God gives me life, gives me a lovely family, friends, love, gives me health, gives me perfect experiences. So there's no something I could regret at all.

So start from today, with Allah's bless, I wish everything will be more and more fine.

Dear Allah,
I lean my wishes to You, my prays to You..
If it's good for me, please bless me and show me the way.

Amin.

-Saturday dawn, May 18-

Selasa, 16 April 2013

Hati dan Akal Bicara Cinta

Hati dan Akal Bicara Cinta

Akal : Assalamualaikum, sahabat.

Hati : Waalaikumussalam...

Akal : Apa khabar iman anda?

Hati terdiam...

Akal bertanya sekali lagi.

Akal : Apa kabar iman anda?

Hati : Kurang sehat mungkin.

Akal : Mengapa?

Hati : Aku merindui dia segenap jiwaku...

Akal : Dia yang mana, sahabatku..?

Hati : Kedua dia. Dia yang hakiki, juga dia yang entah kemana akhirnya..

Akal : Tidak mengapa, Itukan fitrah manusia.

Hati : Tapi rinduku kepadanya kadangkala membuat jiwaku galau.

Fikiranku melayang terbang jauh ke angkasa. Kadangkala ketika beribadah juga aku teringat dia.

Akal : Cintamu padanya, juga cintamu pada-Nya, cinta padaNya kan yang lebih utama.

Hati : Tapi... Aku benar cinta dia.

Aku benar rindu dia.

Aku mencintainya karena Allah. Kami saling menasehati kepada kebaikan.

Aku mau mengejar surga bersamanya.

Akal : Apa makna cinta..?

Hati : Kasih dan sayang.

Akal : Bagiku cinta itu gila.

Hati : Mengapa..?

Akal : Apabila kita mencintai seseorang, kita asyik teringat dia.

Apa yang dikata jangan, sebaik mungkin kita elakkan. Apa yang diminta, boleh mungkin kita usaha.

Bila ada yang lain mendekati, bergolak rasa cemburu.

Apa kau rasa begitu..?

Hati : Ya. Begitu yang aku rasa.

Akal : Apa kau tahu apa itu ibadah..?

Hati : kata orang ibadah itu taat dan patuh.

Akal : Ibadah itu juga adalah cinta.

Hati : Bagaimana maksudnya..?

Akal : Ibadah itu cinta. Berkasih-kasihan dengan Tuhan.

Hati terdiam lagi...

Hati : Jadi... Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan wahai akal?

Akal : Fikirkan, kalau kau benar mencintai dia karena Allah, apa kau ada mengadu kepadaNya..?

Hati : Aku puas sudah berdoa. Aku mendoakannya empat puluh kali setiap hari. Siang dan malam..!

Tegas hati..

Akal : Apa kau berdoa kepada-Nya hanya karena apabila kau terasa jauh dengannya..?

Apa kau hanya melipat gandakan ibadahmu ketika jiwamu rasa tak tenang..?

Hati diam dan tertunduk...

Akal : Bagaimana bisa kau katakan cintamu karena Allah. Sedangkan kau mengabaikan Dia ketika cintamu dengannya sedang indah bercahaya. Sabarlah wahai hati.

Doamu mungkin tidak terkabulkan sekelip mata. Barangkali Allah akan mengabulkannya di lain waktu. Barangkali Allah ada hadiah yang lebih berharga untukmu..!

Aliran sungai merah terasa semakin deras mengalir ke kepala...

Akal : Cinta kepada manusia yang gila seperti itu, hanya layak disandarkan kepada Allah. Allah menarik cintamu kerana Allah lebih mencintaimu.

Allah merindui doa dan tangisan hambanya. Allah mau kau kembali mengindahkan cintamu kepadaNya..!

Hati mulai menangis... Sepi... Kesal..


sumber: Islamic Motivation

Minggu, 14 April 2013

kamu jahat

Kamu jahat.
Kamu rusak semua mainan aku.

Kamu bahkan ninggalin aku di tengah-tengah permainan.

Kamu jahat.
Aku nggak mau main lagi sama kamu.

Aku mau bilang mama kalau kamu jahat.
Balikin semua mainan aku yang pernah kamu pinjem :(

Kamu jahat.
Aku nggak suka anak jahat.
:(

Sabtu, 13 April 2013

afraid

When I start a new relationship, I always feel afraid that it won't last forever.
That the one you love will leave you for unreasonable reasons.

It happened. It happens. And it will happen.