Sabtu, 13 April 2013

afraid

When I start a new relationship, I always feel afraid that it won't last forever.
That the one you love will leave you for unreasonable reasons.

It happened. It happens. And it will happen.

Selasa, 02 April 2013

From Bandung to London

How far is London from here?
It's 6 hours difference.

Start from June, everything will be different.

Indonesia to United Kingdom

Belajar dari Lulusan SD dan Penjual Nanas



Beberapa waktu yang lalu sepulang kuliah, temen saya, sebut saja namanya Rindu, cerita tentang temen sekelas kita. Temen-temen saya di pascasarjana itu memang datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang sudah jadi dosen di universitas, ada guru SMA, ada yang fresh graduate, ada yang berbisnis, ada yang sudah bekerja di perusahaan Jepang, dan ada juga yang pengangguran (seperti saya, hehehe). Beberapa di antara mereka juga sudah ada yang menikah dan akan segera menikah (yang single juga masih banyak kok. hahaha).

Nah jadi, temen saya itu cerita tentang dua orang temen sekelas kita yang cukup membuat saya tercenung, takjub, dan jadi berkaca pada diri sendiri. Cerita pertama datang dari seorang temen sekelas kita yang sudah menikah. Baru satu tahun setengah menikah, kalau tidak salah, tapi belum dikaruniai anak. Awalnya dia cerita basa-basi soal kehidupan dia, bagaimana dia dapat beasiswa untuk sekolah pascasarjana, dan lain-lain hingga pada cerita tentang suaminya. Setahu saya, suaminya itu adalah seorang pebisnis, aslinya orang Padang, jadi Teh Sinta (nama temen saya yang sedang saya ceritakan. Nama disamarkan) selalu memanggil suaminya dengan panggilan 'uda'. Cerita punya cerita, ternyata suaminya itu pendidikan terakhirnya hanya SD! Bahkan katanya SD pun nggak tamat. 

Saya kaget bukan main. Teh Sinta di kelas itu saya kenal sebagai orang yang pintar, cerdas, dan juga sangat cakap dalam menjelaskan sesuatu, tentang pelajaran, misalnya. Bagaimana tidak, dia adalah seorang dosen sekaligus guru SMA di Bekasi. Sebelumnya dia juga sudah sering ngajar dari satu tempat les ke tempat les lain. Jam terbang ngajarnya bisa dibilang sudah cukup tinggi. Sehingga tidak heran beliau dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di pascasarjana. Tapi ternyata suaminya hanya seseorang yang tingkat pendidikannya jauh lebih rendah daripada dia.

Sewaktu sebelum menikah, dia sempat mendapat banyak tentangan keras dari kedua orang tuanya, mengingat status sosial mereka yang cukup jauh. Padahal sebelumnya Teh Sinta ini sudah akan menikah dengan seorang sarjana lulusan universitas di Australia. Tapi mungkin karena memang bukan jodohnya, mereka tidak diperkenankan menikah dan akhirnya Teh Sinta malah menikah dengan seseorang yang sekarang selalu dipanggilnya 'uda'. Orang tua uda sudah meninggal dua-duanya sejak dia umur 11 tahun dan dia tidak punya sanak saudara lain. Itu sebabnya beliau harus berjuang sendirian sejak usia 11 tahun untuk dapat bertahan hidup. Beliau merantau dan mencari pekerjaan untuk biaya hidup. Hingga beliau sampai di pulau Jawa. Sekarang usaha beliau adalah membuka toko kelontong di depan rumahnya di Bekasi untuk menafkahi dirinya dan istrinya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban mental yang harus ditanggung oleh keduanya. Gunjingan dari tetangga atau orang-orang terdekat pasti selalu ada. Tapi mereka berdua tidak pernah merasa terbebani, malah tampak selalu ceria dan romantis. Banyak kekaguman yang ingin saya sampaikan pada mereka berdua. Di zaman sekarang yang kebanyakan masyarakat menilai pangkat, jabatan, pendidikan, dan status sosial sebagai sebuah patokan sebuah keberhasilan atau kesuksesan, mereka berdua membuktikan bahwa sebenarnya hal seperti itu sama sekali tidak penting. Mereka berdua tetap bisa hidup berdampingan dan bahagia meskipun dengan status sosial yang berbeda. Bahkan katanya, Teh Sinta sering mengajarkan hal-hal sederhana tentang cara operasional TV misalnya, apa itu kuliah, kepada suaminya dengan begitu sabar. Saya melihatnya sebagai hal yang lucu dan romantis.

Lalu teman saya menceritakan kisah yang kedua. Cerita ini datang dari teman sekelas kita yang baru, namanya Judika. Kesan pertama saya terhadap laki-laki ini sebenernya kurang begitu bagus. Kenapa? Karena kalau datang ke kelas dia selalu terlihat mengantuk dan dengan penampilan kusam, bahkan terkadang dia terang-terangan tidur di kelas. Tapi semakin hari saya semakin tahu kalau ternyata dia itu cerdas dan juga kritis. Meski terkesan seperti tidak memperhatikan isi kuliah, ternyata dia selalu menyimak apa yang disampaikan oleh dosen di kelas. Dia juga supel dan senang bercanda kalau kita mau mengenalnya lebih dekat.

Awalnya Judika ngobrol sama Rindu soal kapan Rindu datang ke Bandung setiap minggunya. Rindu bilang dia selalu datang setiap Rabu malam sekitar jam 8 (jadwal kuliah di pascasarjana hanya dari hari Kamis-Sabtu). Jadi setelah habis mengajar di Bekasi, Rindu langsung berangkat ke Bandung sore harinya. Rindu nanya balik kan sama Judika setiap kapan dia datang ke Bandung, dan Judika bilang dia selalu datang ke Bandung Rabu tengah malam, atau kadang sudah masuk Kamis dini hari, karena dia harus kerja dulu. Setelah nanya-nanya lebih lanjut tentang pekerjaan Judika, ternyata Judika itu punya usaha sendiri. Usaha apa? Jualan nanas di pasar induk.

Saya kaget. Jualan nanas? Iya, nanas. Dia bilang orangtuanya sudah tua dan tidak bekerja, jadi dia yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga dengan berjualan nanas di pasar induk. Makanya dia selalu datang tengah malam ke Bandung karna katanya nunggu dagangan habis. Tapi kalau hari-hari biasa seperti sekarang, penjualan nanas memang nggak terlalu bagus. Paling banyak ya cuma dapat 500 ribu - 1 juta, itu pun harus dipakai untuk modal lagi dan biaya sewa jongko di pasar. Kalau menjelang lebaran, nah baru penjualan nanas meningkat, bahkan omzetnya bisa sampai 50 juta, begitu ceritanya.

Jadi ternyata itu alasannya kenapa dia selalu terlihat mengantuk di kelas, terlihat malas-malasan, bahkan penampilannya terkesan kusam. Karena dia ternyata habis menjaga jongko nanas di pasar.

Subhanallah..
Cuma itu satu-satunya kata yang keluar dari mulut saya waktu mendengar cerita itu. Di zaman sekarang ini, dimana kebanyakan orang mendambakan pekerjaan yang ideal, kerja kantoran dengan gaji tinggi, dia bisa merasa cukup hanya dengan berjualan nanas. Dan yang membuat saya lebih kagum lagi, dia membiayai sendiri biaya kuliah pascasarjana. Meski dengan segala keterbatasan, dia tetap punya semangat untuk melanjutkan kuliah hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Teman saya itu membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk memperoleh pendidikan, tidak ada hambatan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi, asal kita mau berusaha.


Saya, yang biaya hidup dan biaya kuliah masih dibiayai oleh orang tua jadi merasa malu sendiri. Ternyata di dekat saya, banyak orang-orang hebat seperti mereka. Memang dalam hidup itu kita jangan selalu melihat ke atas. Capek.
Banyak orang-orang hebat kalau kita mau menundukkan kepala dan mendengar cerita mereka.
Di luar sana, di kelas-kelas lain di gedung pascasarjana ini, saya yakin masih banyak orang hebat selain dari kedua orang teman saya di kelas ini.

Terima kasih untuk pelajaran hidup hari ini.

-2 April 2013-

Selasa, 19 Maret 2013

mimpi

mungkin tadi malam aku tidur terlalu lelap
hingga jatuh pada mimpi yang terlalu dalam

aku melihat seorang pangeran di atas kuda putihnya
mengulurkan tangannya padaku
menyunggingkan senyum yang tak mampu dikalahkan matahari

dia beri aku kotak-kotak coklat
juga kotak musik dengan balerina menari cantik di dalamnya

dia bawa aku bermain ke istana emasnya
dia bilang istananya jadi lebih cantik karena aku masuk kesana
dia bilang kalau dia mau aku disini, sampai rambut kita berubah jadi abu-abu

lalu,
aku tidak tahu ini ulah siapa
mungkin saja ulah nenek sihir yang ingin mengujicoba mantra sihir barunya
atau ulah kakak-beradik saudara Cinderella yang iri karena aku mendapat si tampan
karena tiba-tiba saja, aku terjatuh dari kursi yang disediakan pangeran

saat aku membuka mata, kupikir ini mimpi
karena aku tidak lagi melihat atap-atap tinggi dengan hiasan lampu gantung mewah
pilar-pilar kokoh yang tak bisa kuhitung jumlahnya
kursi-kursi singgasana juga karpet-karpet tebal yang empuk
aku juga tidak dapat menemukan pangeran dimanapun

yang justru kulihat adalah atap kotor yang hampir lapuk karena sering terkena rembesan air hujan
dinding kusam yang sebagian penuh oleh coretan dan tempelan poster
dan karpet jelek yang sama sekali tidak dapat menahan gigitan dingin di malam hari

dan aku sendirian

kotak-kotak coklat
kotak musik dengan balerina cantik
juga ikut hilang

saat merasa sebutir cairan hangat meleleh di pipiku
aku baru sadar

mungkin
tadi malam sebelum aku tidur
aku terlalu banyak berharap pada mimpi

atau mungkin lupa berdoa
agar aku tidak ditelan mimpi


-tengahmalamsaattakbisatidur20032013jam01:44-

Selasa, 05 Maret 2013

another monthsary!

So, yesterday was our 3rd month!
March 5, 2013
Happy monthsary baby~
I love you!

Anyway, this is the letter for you.
page 1

page 2

page 3

And..
I got this cute cookie as a gift. He said it supposed to be "I love you" cookies, but then his little sister ate them all so it's only the heart-shaped cookie left. Hahahah xD
But it's sooooooooooooo cute. I couldn't even imagine how did he bake the cookies.
But anyway, thank you babe :3


love cookie <3
But then I got another surprise last night, this cute love letter!



All thank you for you!!
I got to go now babe, my prof's waiting~

Good luck for your exams today, soon to be a doctor! *chuckles*
And get me 26 of A's! :3


March 6, 3013
-peach xoxo-

Jumat, 15 Februari 2013

another piece

Got this as my valentine's present. And I couldn't help but melt.

Love you, babe.

The Man Who Can't Be Moved (piano cover)

Selasa, 12 Februari 2013

SD DI INGGRIS VS SD DI INDONESIA

Intan Eka Wulandari
Mahasiswa Pascasarjana UPI, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

Membaca artikel yang ditulis oleh A Chaedar Alwasilah, seorang Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tentang SD di Inggris, membuka pikiran saya tentang bagaimana jauh berbedanya kondisi SD di Inggris dan SD di Indonesia. Dalam artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat pada hari Selasa 16 Oktober 2012 tersebut beliau mengungkapkan bahwa sistem pengajaran yang dilakukan di tingkat sekolah dasar di Inggris sangat jauh berbeda dengan sistem pengajaran di Indonesia.

Murid sekolah dasar di Inggris tidak menggunakan buku teks dalam pembelajaran. Mereka hanya diberikan PR dalam 2-3 halaman untuk dikerjakan dengan bantuan orangtua. Tidak pernah ada PR yang dikerjakan di buku teks. Mereka mencari wawasan dan informasi sebebas-bebasnya sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing melalui pusparagam buku yang disediakan di perpustakaan sekolah berupa buku sastra anak, biografi para tokoh dunia, cerita petualangan, kamus bergambar, ensiklopedia, dan sebagainya. Murid ditugasi membaca sebanyak mungkin sesuai dengan minatnya kemudian melaporkannya dalam bentuk tulisan, atau melaporkannya secara lisan di dalam kelas. Di dinding dan meja murid di setiap kelas terpajang buku-buku bacaan, portofolio, hasil penelitian murid yang dipamerkan sebagai bukti kerja mereka.

Untuk melatih motorik, harmoni, gerak, dan kreativitas nada, terdapat mata pelajaran menari dan musik yang diselenggarakan lintas kelas pada jam tertentu di aula besar yang dapat menampung 200-500 orang. Mata pelajaran yang termasuk dalam foundation curiculum ini dibimbing oleh seorang guru tari profesional.

Melihat fakta-fakta di atas, secara otomatis saya langsung membandingkan dengan kondisi sekolah dasar di Indonesia. Seorang guru SD di Indonesia rata-rata menjadi guru untuk seluruh mata pelajaran yang diajarkan di SD, sehingga tidak terfokus pada satu mata pelajaran saja. Selain itu, banyaknya jumlah murid di dalam kelas, yang bahkan mencapai 50 orang lebih di dalam satu kelas, menyebabkan guru terkadang tidak efektif dalam menyampaikan pelajaran. Kondisi ini juga menyebabkan guru tidak dapat mengontrol seluruh siswanya dengan maksimal, sehingga tidak jarang murid-murid gaduh, bahkan berkelahi di dalam kelas. Selain itu pula, kondisi kelas-kelas SD di Indonesia tidak layak. Dinding kelas yang retak-retak, atap bocor, tidak memiliki pintu ataupun jendela, bahkan terdapat kelas yang hanya berdinding bilik atau kayu dan beratap seng.

Melihat kondisi kelas di Indonesia yang seperti itu, rasanya begitu jauh bila dibandingkan dengan SD di Inggris. Dengan fasilitas pendidikan yang masih serba terbatas di sekolah-sekolah di Indonesia, rasanya sulit untuk menyamai kualitas SD-SD di Inggris. Saat ini memang sudah banyak sekolah-sekolah di kota besar yang sudah dilengkapi dengan fasilitas lengkap. Para siswa dapat mengakses informasi seluas-luasnya melalui fasilitas yang disediakan. Namun kenyataannya, di pelosok-pelosok negeri, masih banyak sekolah yang kondisinya tidak layak. Padahal banyak anak-anak Indonesia di pelosok yang masih haus pendidikan tetapi tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak karena kurangnya fasilitas.

Saya teringat sebuah percakapan singkat dengan seorang kerabat yang tinggal di daerah pedesaan beberapa bulan yang lalu. Saya menceritakan tentang bagaimana hebat dan majunya sekolah di kota, yang lengkap dengan fasilitas komputer dan internet, pengajaran dengan menggunakan bahasa Inggris, dan berbagai keunggulan lainnya. Beliau hanya mendengarkan saya dengan takjub, lalu sebaris komentar singkatnya membuat saya tertegun, “Ah, sekolah seperti itu kan hanya untuk orang kaya saja. Bagi kami yang tinggal di kampung, bisa sekolah saja sudah untung,” komentarnya dalam bahasa Sunda, sambil tersenyum-senyum. Saya jadi tidak bisa berkata-kata lagi, miris. Saya berpikir bahwa ternyata pendidikan di negara ini masih dianggap sebagai sesuatu yang mahal, padahal semua orang berhak mendapatkan pendidikan.

Buku Indonesia Mengajar

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang berjudul “Indonesia Mengajar” yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Buku  tersebut memuat kisah para pengajar muda yang mengajar di pelosok-pelosok negeri hingga ke pedalaman. Buku ini membuka pikiran saya bahwa ternyata memang masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang haus akan pendidikan. Dengan segala keterbatasan mereka, dengan minimnya fasilitas belajar yang mereka miliki, mereka begitu bersemangat dalam mencari ilmu. Bahkan mungkin, semangat belajar mereka lebih besar daripada anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas.

Lewat cerita-cerita para pengajar muda itu tentang anak-anak negeri yang semangat belajar dengan segala kekurangan mereka, saya sekarang meyakini satu hal, bahwa pendidikan di Indonesia dapat lebih maju, semaju pendidikan di Inggris, bahkan mungkin lebih maju. Tinggal kita mulai dari diri kita sendiri, meyakini bahwa kita dapat memajukan pendidikan di Indonesia lewat semangat anak-anak bangsa yang ingin belajar. Termasuk saya, memulai dari diri saya sendiri.


12 Februari 2012
@ Gd. Pascasarjana UPI