Kamis, 30 November 2017

Meet the Doctor

Holaaaa! Ini sudah tahun 2017.
Seperti tahun-tahun sebelumnya ke belakang, saya tersadar kalau saya menulis di blog ini cuma sekali dalam setahun. Karena ternyata postingan terakhir saya memang sudah setahun yang lalu. Kebiasaan buruk! Hahaha.

Jadiii, di postingan terakhir itu tercatat kalau saya baru saja bertunangan dengan (mantan) pacar yang pacarannya baru berjalan kurang dari 3 bulan saja waktu ini. Daaan, bulan ini, saya dan suami sudah masuk ke usia pernikahan ke 7. Bulan loh yaaa, belum tahun. Hehehe. Masih sangat mudaaa usia pernikahannya, masih anget-angetnya kalo kata orang-orang sih masih rasa bulan madu. Meskipun yaaa tipikal awal-awal pernikahan, semua yang sudah menikah pasti pernah merasakannya; sedih karena harus pisah dengan keluarga yang selama belasan bahkan puluhan tahun hidup bersama, banyak hal bertentangan yang akhirnya memicu pertengkaran kecil, dan bumbu-bumbu lain di masa-masa awal pernikahan. Omelan, ngedumel, unek-unek, kesel, gemes, geregetan, daaaan lain lain sering banget muncul. Tapi, sejauh ini saya menikmatinya.

Oke, saya sekarang mau cerita tentang perjalanan pernikahan saya yang baru seumur jagung (lebih sedikit) (note: umur jagung rata-rata 135 hari) ini. Jadi, dalam 7 bulan perjalanan pernikahan saya ini, saya masih mengalami menstruasi dengan lancar. Loh? Terus?
Yak, itu artinya, saya belum mendapatkan "isi" yang selalu orang-orang tanyakan itu sama saya. Jujur aja, pertanyaan sesederhana "udah isi belum?" itu menjadi pertanyaan paling menyebalkan bagi saya. Saya tahu mereka peduli, mereka ingin mendengar kabar bahagia dari saya dan suami, meskipun banyak juga yang cuma sekedar kepo dan basa-basi. Tapi pertanyaan sesederhana itu sungguh melukai perasaan saya. Toh, bukan saya kan yang menentukan kapan saya bisa ber"isi". Sesungguhnya ada yang lebih berkuasa daripada saya untuk menentukan kapan saya bisa menjawab seluruh pertanyaan itu. Pada waktu saya menjawab "belum," sambil tersenyum simpul, ada yang menimpali dengan kata-kata "aduh kasian.." Rasanya hati saya nyuuuuttt banget. Sakit. Memangnya saya kenapa sampai harus dikasihani?

Saya baru menginjak usia pernikahan ke-7 bulan, tapi rasanya saya depresi sekali setiap kali mendengar pertanyaan serupa seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya para pasangan lain yang bertahun-tahun diuji oleh Allah belum diberikan keturunan tapi tetap bisa tersenyum menghadapi ribuan pertanyaan serupa, mungkin sudah banyak juga omongan negative terlontar dari orang-orang, tapi tetap berpositive thinking pada Yang Berkuasa. Apalah saya yang baru saja menjalani bulan ke-7 pernikahan tapi sudah sangat stress dengan pertanyaan seperti itu.

Belakangan ini, saya jadi terbiasa menghindar dari postingan teman-teman saya di social media yang memposting tentang cerita kehamilan mereka. Daripada saya merasa iri dan akhirnya malah menjadi suudzon sama Allah, lebih baik saya menghindarinya. Mungkin, Allah memang belum berkehendak saja untuk menitipkan salah satu makhlukNya ke keluarga kecil kami.

Ada yang pernah bilang, ada baiknya jodoh itu dijemput. Begitu pun soal "berjodoh" dengan calon anak yang akan lahir di keluarga kita. Salah satu cara menjemput "jodoh" itu tentu saja dengan ikhtiar.

Bulan Februari lalu adalah kali ke-3 saya menemui dokter obgyn. Bukan untuk memeriksa kandungan, tapi untuk memeriksa sinyal-sinyal "php" yang sering saya rasakan sejak bulan pertama menikah sampai sekarang. Sebulan setelah saya menikah, saya dan suami bulan madu ke Bali. Saat itulah php pertama saya rasakan. Perut bagian bawah saya terasa kram seperti sedang haid hingga 2 minggu setelah kami pulang dari Bali. Penasaran karena sakitnya tidak kunjung reda, saya menemui dokter obgyn untuk memeriksanya. Sempat geer sekali, sumringah berharap kehamilan, tapi ternyata harus menelan pil pahit kecewa karena hasil usg menunjukkan bahwa rahim saya masih kosong.

Bulan dan bulan berikutnya, setiap menjelang haid saya selalu merasakan yang sama. Kram perut di bagian bawah, mual muntah, pusing, badan ngedrop which is kalau temen saya bilang, tanda-tanda orang hamil banget. Tapi lagi-lagi saya harus merasa sedih karena pada waktu melakukan test pack garisnya masih menunjukkan satu. Lemes. Sementara teman-teman saya yang lain dengan senangnya mengupload foto testpack 2 garis mereka di socmed, saya lagi-lagi harus membuang testpack 1 garis saya ke tempat sampah. Sedih. Awal-awal sedih banget, bahkan setiap kali datang haid pasti saya langsung menangis sambil meluk suami. Lama-lama akhirnya jadi sudah "agak" terbiasa dengan gejala-gejala sama yang saya alami. Meskipun tetep aja dalam hati terbesit, "please, not this php things again..." karena ternyata lelah merasa php itu. Php muncul karena saya yang berharap terlalu tinggi. :( Hingga besitan-besitan hati yang berharap, "semoga yang kali ini beneran hamil.." meskipun akhirnya harus kecewa lagi karena si mens datang lagi.

Tapi, usaha insyaallah tidak akan pernah putus. Setelah menemui dua dokter obgyn yang berbeda dan berkonsultasi tentang program kehamilan, bulan lalu untuk ketiga kalinya saya bertemu dengan dokter lain yang direkomendasikan oleh teman saya yang juga pada awalnya cukup lama "kosong" sampai pada akhirnya hamil. Saya mendatangi seorang dokter obgyn yang cukup populer di Bandung yaitu dr. Maximus Mujur. Hasil dari konsultasi itu juga, dokter cuma bilang bahwa saya sehat, baik-baik saja, hanya perlu perbaikan pola makan supaya bisa segera lekas hamil. Pulang dari sana, saya sama suami cuma diminta untuk "semakin mencintai satu sama lain", biar katanya pas lagi "memadu kasih" itu sama-sama menikmati, selain itu kita juga diminta untuk bisa lebih mencintai Tuhan kita. Karena Tuhan-lah yang nantinya akan meniupkan ruh ke dalam rahim saya, jadi untuk itu dekati Tuhan pemegang ruh, supaya kita juga bisa dapet kesempatan untuk dipercaya jadi orangtua.

Setelah denger apa kata dokter, dan saya melihat ke belakang, ternyata memang pola hidup saya sama sekali belum teratur, dan semua yang dokter bilang itu seolah menampar saya. Tapi nyatanya setelah sebulan-dua bulan- konsultasi dengan dokter Maximus, saya masih belum bisa maksimal menjalankan semua nasihat-nasihat medisnya. Bulan berikutnya dan bulan berikutnya lagi, saya berusaha untuk buat janji dengan dokter Maximus tapi selalu gak berjodoh, karena dokternya selalu pas gak praktek pas saya datang ke rumah sakit. Sampai rasanya lelah, apa memang belum saatnya untuk lanjut promil ya?

Sampai tulisan ini ditulis, saya masih bingung. Harus dengan cara apa lagi saya coba promil?



Senin, 21 Maret 2016

Welcoming A Brand New Life

Kaget juga saat liat postingan terakhir di blog ini, ternyata hampir satu tahun lalu, bulan Mei di tahun 2015. Kalo diliat-liat, kayaknya saya bikin postingan di blog ini cuma sekali setahun, abis itu ngilang, hahaha.

Judul blog kali ini, "Welcoming A Brand New Life" karena memang, ternyata dalam kurun waktu hampir satu tahun ini saya sudah melewati beberapa fase waktu yang cukup menguras air mata, tapi alhamdulillah sampai detik ini saya mengetik tulisan ini, saya akan mulai menyambut kehidupan baru yang insya Allah bahagia, aamiin.

Jadi begini ceritanya. Ehm, bakal agak panjang sih yaa kayaknya soalnya update-annya tentang setahun ke belakang sih. Tapi diringkas aja kali yaaaa.

A brand new life ini, dimulai saat saya alhamdulillah akhirnya bisa berkunjung ke Baitullah. Pergi umroh bareng kedua orang tua. Unforgettable moment banget, bakal saya inget terus sampai kapan pun. Karna pergi umroh ini juga ada sejarahnya (#halah). Berangkatnya saya umroh karena sempet ada kejadian sebelumnya yang menguras air mata saya dan ibu saya, dan akhirnya papa ngajak saya umroh bareng supaya bisa berdoa bareng disana, katanya. Supaya semua keinginan dan kegalauan langsung diadukan sama Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu langsung di sana, di rumah Allah.

A brand new life ini, mungkin jawaban atas doa-doa kedua orang tua saya di sana, dan doa orang-orang yang sayang sama saya. Saya yakin banget, doa saya bisa dikabulkan sama Allah itu karena doa-doa orang lain yang ikut mendoakan saya. Alhamdulillah, kalau inget itu rasanya saya gak pernah bisa berhenti mengucap syukur. Allah Maha Baik.


Jadiiiiiiiiiiiii,
Apa sih my brand new life ituuuu?


Jadi, tepatnya seminggu sepulang dari saya umroh itu, I met a guy. Kalau first impressionnya temen saya, dia bilang "He's a nice guy with a sweet smile," And I couldn't agree more :)
Dia bakal geer sih kalo baca ini, tapi untungnya dia gak pernah blogging. Hahaha.

Singkatnya, satu bulan setengah jalan akhirnya kita merasa cocok satu sama lain, terus ternyata pas dikenalin ke orangtua masing-masing, mereka juga cocok-cocok aja. Malah menganjurkan segera dilanjut ke jenjang yang lebih serius aja.

Rada kaget juga sih, secara kenal juga baru sebulan lebih trus tiba-tiba udah disuruh nikah aja. Saya sama si doi sempet saling tanya-tanyaan juga apakah ini terlalu cepet atau ngga. Tapi setelah diskusi ini itu ternyata emang prosesnya cepet banget dari yang saya perkirakan. Ketemu akhir bulan januari, terus tanggal 9 Maret 2016 lalu akhirnya keluarga dia dateng untuk melamar secara resmi.

Karena keluarga tunangan (cie tunangan :p) saya jauh, dari Cirebon, jadi pertemuan keluarga pertama di Bandung itu langsung ke acara lamaran.


Sssst, ini rahasia ya. Tunangan saya itu bukan tipe cowok yang romantis, malah bisa dibilang cuek bangeeeeet, tapi rabu pagi tanggal 9 Maret 2016 sebelum acara lamaran itu dia berhasil bikin saya nangis lewat postingannya di Path. Dia posting foto cincin tunangan kita di atas itu dengan caption "ketika matahari, bulan dan bumi sejajar, kita sejajarkan juga tujuan kita. bismillah."
Pas baca itu entah kenapa saya tiba-tiba langsung mewek, huhuhu. Secara dia itu orangnya cuek dan jarang ungkapin apa yang ada di kepalanya terang-terangan, jadi sekalinya ngomong kata-kata yang nyentuh hati itu rasanya langsung nyesss gitu kena hati. Hahaha.
Dan yang bikin saya makin mewek adalah deretan doa yang menyertai dari adanya postingan itu. Alhamdulillah banget, temen-temen saya, temen-temen dia, semua banyak yang mendoakan.

itu dia tuh si pemilik sweet smile :p
with my lovely parents <3
Acara lamaran berlanjut dengan pembicaraan keluarga mengenai tanggal dan persiapan untuk pernikahan. Waktu itu tanggal pernikahan belum fix karena jaman sekarang ini yaaa mau bikin acara harus ngikutin tanggal gedung. Jadi gak bisa tuh nentuin tanggal sesuai dengan keinginan kalau waktunya udah mepet banget. Kalau mau dapet tanggal cantik harus booking dari setahun sebelumnya. Fiuhhh! Kelamaan.
Jadi, tanggal berapapun oke asal gedungnya ada! Hahaha. Daripada pusing-pusing nyari tanggal cantik tapi gedungnya gak sesuai harapan kan, mending cari gedung yang sesuai harapan dengan tanggal yang bisa menyesuaikan. Toh semua hari baik. 

Alhamdulillah, sekarang tanggal dan gedung sudah fix. Alhamdulillah tanggal dan gedungnya sesuai dengan yang diharapkan. Saya kasih bocoran tanggal nanti aja kalau udah deket hari H yaaaa.

Aaahh, tapi rasanya masih lama banget. Udah gak sabaaaaar! Hahaha.

From us with love, xoxo

Rabu, 06 Mei 2015

Mimpi Ke Luar Negeri



Udah 2015! Yeaaaay!!
Udah bulan ke 5 juga sih (-__-") tapi ya biarin lah ya. Better late than never kan ya. Hihihi.

Saya baru buka lagi blog yang udah usang dan berdebu ini dan memutuskan untuk ngoceh lagi disini. Agak malu juga sih baca postingan-postingan lama karena isinya yang alay dan bikin sakit mata. Tapi saya adalah orang yang paling anti menghapus foto-foto lama ataupun tulisan-tulisan lama karena menurut saya itu adalah bagian dari sejarah hidup saya #tsah---sealay dan semembikinmuntah(?)nya postingan saya. Jadi saya keep everything in the place.

Nah ngomong-ngomong sebelum saya mau cerita tentang judul yang udah saya tulis di paling atas, rada mau curhat bin curcol dulu nih. Saya gak ngerti gimana caranya ganti background blog saya yang super duper alay ini. "Maaaaak, toloooong!" Duh, maaf ya karena saya agak kurang melek sama hal-hal kayak beginian. Dibilang gaptek gak juga sih (sebenernya lebih ke: gengsi kalo dibilang gaptek), tapi kalo udah urusan sama yang gini-ginian saya memang gak ahli. "Tinggal cari di Google Neng, banyak tutorialnya!" mungkin temen saya bakal teriak kayak gitu di kuping saya, tapi saya gak mau ribet cari-cari sendiri, pengennya yang praktis AJAH.

So, kalo ada yang mau jadi sukarelawan editin bekron saya, saya akan dengan senang hati memberikan hadiah terindah berupa ucapan terima kasih. *nyengir*


End of Curcol

Oke, jadi sesuai dengan judul, mengawali tulisan saya di tahun 2015 ini saya pengen cerita soal mimpi-mimpi saya tentang dunia luar di luar negara Indonesia--a.k.a luar negeri. Sebenernya udah lama banget pengen nulis ini, tapi baru kesampean sekarang karena saya sok sibuk.

Semua orang pasti punya mimpi untuk ke luar negeri. Apalagi orang Indonesia yang hobi pamer foto-foto di luar negeri buat diupload ke sosmed instagram, path, facebook, dll dll. Bagi sebagian besar orang, pergi ke luar negeri adalah sebuah pencapaian, sebuah prestasi. Pun bagi saya. Tapi kalau bagi saya, pergi ke luar negeri itu sebagai perwujudan dari mimpi-mimpi masa remaja saya. Saya masih ingat waktu dulu saya menulis mimpi-mimpi saya dalam urutan 1-100 di buku diari kumal saya. Setiap kali satu mimpi saya terwujud, saya akan mencoret satu per satu list itu. Salah satu mimpi saya waktu itu adalah: "pengen naik pesawat ke luar negeri."

Dari sekedar tulisan yang dulu kayaknya impossible banget buat terwujud, dan terkesan muluk-muluk, siapa yang sangka kalau ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Tahun 2011 tepatnya bulan Maret, akhirnya saya berhasil mencoret satu impian itu karena mimpi saya terwujud. Saya terbang ke Singapura untuk pertama kalinya. Seneeeeeeeeng banget, deg-degan sampai gak bisa tidur sehari sebelumnya membayangkan penerbangan pertama saya.

ini waktu lagi nunggu MRT

udah pada tau dong ini dimana? Yup, Esplanade.

Orchard Road!

Duh, maafkan ya kalau fotonya rada-rada alay dan norak. Maklum baru pertama kali nginjek luar negeri. Hahaha. (sebenernya saya suka banget ngeliat foto-foto saya di atas soalnya itu bukti kuat kalau saya pernah kurus. #loh berarti sekarang?????)
Jadi foto-foto norak saya di atas adalah kali pertama saya ke luar negeri. Asli deh kayak orang udik banget. Di bandara gagap, pas nginjek Changi Airport kayak orang gila cengo tercengang ngeliat bandara yang bagus. Trus malah kebayang adegan AADC pas Cinta ngejar-ngejar Rangga (padahal beda bandara). Ya intinya satu kata deh: NORAK. Lebih norak lagi waktu ngeliat kotanya ternyata rapi banget gak kayak kota-kota di Indonesia.  Takjub deh pokoknya.

Pengalaman ke Singapura itu diikuti dengan perjalanan berikutnya ke Singapura juga di tahun 2012 bulan Mei. Kali ini udah gak seudik kali pertama. Hahaha. Tapi masih udik juga sih waktu masuk ke Universal Studio yang wahananya canggih-canggih. Padahal emang udah dasarnya udik.


Mei 2012, Singapore
Tahun 2013 saya gak dapet kesempatan untuk ke luar negeri dikarenakan gak ada kesempatan (halah). Baru di tahun 2014, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya yang udah diidam-idamkan banget sejak pertama kali nginjek lantai kampus sastra Universitas Padjadjaran. Ke Jepang! Sebagai lulusan sarjana Sastra Jepang, gak afdol kayaknya kalo nggak terjun langsung ke negara yang udah membuat saya berjibaku(?) selama 4 tahun lebih di bangku kuliah dan dipusingkan dengan tugas-tugas berkanji-keriting-yang-bikin-otak-keriting.

Jadi akhirnya, saya bisa mencoret satu daftar mimpi saya lagi di diari kumal saya. Ini foto-foto narsis saya waktu di Jepang.


Daikakuji Temple bersama seluruh rombongan

Arashiyama, Kyoto

ini di sekitar tempat tinggal saya di kawasan Nishinari-ku, Osaka

Universal Studio Japan

mejeng sama taksi Jepang.
kalau di sana taksinya pake mobil yang agak tua,
beda dengan di Indonesia yang rata-rata taksinya mobil-mobil baru

Tahun 2014 kemarin ditutup dengan trip saya ke Bangkok, Thailand. Cuma berkeliling di sekitar Bangkok aja, yang kotanya, udaranya, macetnya, tata kotanya, penduduknya agak mirip dengan ibukota kita tercinta, Jakarta. Tapi kerennya mereka sudah punya MRT dan monorail. Gak seperti Indonesia yang omdo belum punya transportasi umum seperti itu.

akhirnya bisa ketemu sama 'aa' Leonardo Di Caprio

biar keliatan di Thailandnya jadi foto pose beginian

ini di Museum Art in Paradise Bangkok

Wat Arun, Bangkok

Pengalaman meluarnegeri(?) saya memang gak sebanyak teman-teman saya dan terkesan "ecek-ecek". Mungkin yang lain ada yang bakal bilang, "baru segitu aja udah bangga". Tapi bagi saya--sekali lagi--ini adalah perwujudan mimpi-mimpi masa remaja saya yang akhirnya terealisasi. Bukan sebuah pencapaian, bukan ajang pamer, tapi justru jadi tolak ukur saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya yang lain. Jadi suatu saat nanti saya bisa menertawakan tulisan norak ini, atau tersenyum-senyum mengenang mimpi kecil yang jadi kenyataan ini, karena suatu saat di masa depan nanti saya sudah menggenggam mimpi yang lebih besar. Aamiin. Keliling dunia! Tentu itu jadi mimpi semua orang, termasuk saya. 

Dan saya belajar satu hal berharga, ternyata mimpi yang terkesan muluk-muluk itu suatu hal yang menjadi kenyataan esok hari. The power of dream. Tanpa kita sadari, semesta ikut mengamini doa-doa kecil kita dan membantu kita untuk mewujudkan satu per satu.

So, mimpi luar negeri saya berikutnya adalah: Mecca, Europe (Germany, Paris, Nederland), Turkey, etc etc.

Resolusi saya tahun 2015 adalah: pergi ke luar negeri setiap tahun. 

Ini tahun 2015, dan saya belum punya rencana apapun di tahun ini. Tapi, who knows? Nanti di akhir tahun tahu-tahu saya sudah di Berlin, Jerman, atau di Mekkah untuk ibadah umroh. *ngucap amin keras-keras*


Keep dreaming.

Tetap bermimpi, ya. 

Jumat, 09 Mei 2014

Blue Macaws

Princess,
Maybe in another life time we can both be ants or something.

Shouldn't be too complicated.

Two ants who love each other very much.
Stay away from the humans.

That shouldn't be complicated at all.

Or

We can be birds.
uh- like the Blue Macaws.
Those are nice.
They have families.
Like Rio.
In the Amazon.


See?
They are beautiful.
Maybe everything won't be this complicated.

I love you.

I'm not kidding though.

In another lifetime, I'll be looking for you.
I promise.

I will love you.
I promise.


-------------------------

...and I cried. Hard.




Minggu, 13 April 2014

di belakang

Bagian yang paling tidak saya sukai dari perpisahan adalah perasaan sepi, kosong, sendirian ketika orang yang meninggalkan kita benar-benar sudah pergi. "Ditinggalkan" selalu menyisakan perasaan tidak enak. Sakit, malah. Tentu beda dengan "tertinggal", bukan? Karena kalau kita tertinggal, kita masih bisa mengejar. Sementara kalau ditinggalkan, artinya kita benar-benar dilepaskan di suatu tempat di belakang, sementara orang lain pergi melanjutkan perjalanan tanpa kita. Meski sangat ingin mengikuti langkah orang yang meninggalkan kita, kita tak punya daya. Seolah-olah punggung yang berjalan meninggalkan kita itu berkata, "jalannya sudah beda. Kamu berhenti disini saja. Saya mau lanjut perjalanan yang baru. Kamu pasti bisa jalan sendirian dari sini, kok. Seperti saya juga akan mulai berjalan sendirian dari sini. Kamu, aku, bisa. Kita bisa,". Simpel. Lalu dia melambaikan tangan tanpa beban, dan membalikkan punggung.

Nyatanya saya hanya bisa diam dan menatap lama punggung itu. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Karena tidak ada lagi punggung yang bisa saya kejar. Ataupun langkah yang bisa saya sejajari.

Jalanan ini cuma satu. Tidak bercabang ataupun memutar. Dan saya tahu dimana tujuannya. Saya juga tahu berapa lama lagi waktu yang harus saya tempuh untuk sampai di ujung jalan. Masalahnya, saya tidak punya si pemilik punggung yang biasa saya kejar lagi, ataupun langkah-langkah yang kadang cepat ataupun lambat yang bisa saya jejeri lagi--seperti kata saya tadi. Kalau jalan sendirian, rasanya tidak asyik. Tidak ada teman mengobrol, teman mengoceh mengomentari apapun yang tertangkap mata, teman beristirahat sejenak saat kaki lelah, atau teman untuk sekedar bercanda melepas bosan saat menyusuri jalanan.

Jadi, saat dia bilang dia mau pergi, saya cuma bisa berdiri, berjongkok, lalu berdiri lagi. Tidak bisa bergerak maju untuk berusaha mengejarnya, ataupun meneriakinya untuk berhenti dan menyuruhnya menunggu saya. Saya cuma diam gak bergerak. Bibir yang biasanya ngoceh panjang lebar pun mendadak kelu. Saat saya sadar, punggungnya yang sangat saya sukai itu sudah hilang ditelan garis horizon. Sekarang sudah terlambat buat mengejarnya. Mungkin dia sudah sampai di garis finish dan sedang tertawa bangga atas kemenangannya. Kemenangan yang pada awalnya kita angankan raih berdua tapi pada akhirnya dia ambil sendiri dengan meninggalkan saya di belakang.

Egois, memang. Itu yang selalu saya bilang sama dia. Tapi katanya, kalau saya tidak belajar untuk berjalan sendiri, saya bakal terus jadi anak manja yang bisanya cuma nguntit di belakang punggung dia. Saya bilang, kalau saya jatuh saya harus pegang siapa? Pegang apa? Dia jawab kalau saya bakal nemu pegangan baru, yang lebih kuat. Saya nggak bisa, harus berhenti disini, itu katanya. Nggak ada lagi kita, katanya lagi. Kamu, aku, jalan sendiri mulai sekarang ya? Nggak jauh lagi, kok.

Apa saya menangis saat dia pergi?
Sudah bosan. Sampai-sampai rasanya saya lupa bagaimana caranya menangis.
Saya jongkok lagi. Menatap bekas sepatunya yang membentuk jejak langkah menjauh dari tempat saya berdiri tadi.

Sudah benar-benar pergi, ya? Kasih tau saya, saya harus kemana dari sini? Tau sih, tinggal lurus saja. Tapi jalan lurus pun terasa membingungkan kalau kamu nggak ada.

Mau menangis boleh?
....tapi takut kamu marahi.

Menunggu kamu balik ke sini boleh?
....kamu pasti jawab enggak.

Hey. (teriak dalam hati)
Menengok pun kamu tidak.

Minggu, 14 Juli 2013

Menyenandungkan Rindu

FIKSI


Apa kabar?

Hufft. Kedua kata itu kembali menari-nari di kepalaku.
Mengapa sebaris kalimat itu bisa mempengaruhiku sampai
seperti ini? Aku menarik nafas panjang, mencoba
menenangkan debaran hati yang tak bisa tenang tiap kali
kata-kata itu terngiang di telingaku. Kupegangi kedua sisi
cangkir cappucinoku, mencoba mengalirkan kehangatan pada
tubuhku yang entah mengapa tiba-tiba menggigil
kedinginan. Aku menghisap cappucinoku dalam-dalam, lalu
cairan hangat mulai mengalir melintasi tenggorokanku
menuju dada. Ahh, hangat.

Di luar masih hujan. Tetesan air hujan memerciki jendela
tempat aku memandang lurus menembus hujan. Lalu tanpa
diminta, memori di kepalaku berputar cepat seperti film
yang sedang di-rewind . Tempat ini, selalu saja menjadi
tempat yang tak pernah bisa aku lupakan. Sekeras apapun
aku berusaha untuk menjadikan tempat ini sebagai bagian
dari masa lalu, namun pada akhirnya usahaku itu hanya
akan membawaku kembali ke tempat ini, mencoba untuk
memunguti kepingan-kepingan kenangan yang mungkin
masih bisa aku kenang. Terkadang hanya dengan mengenang,
aku bisa kembali menghadapi dunia lagi, memberi sedikit
kekuatan meski untuk itu aku harus membuka-buka lagi
luka lama.

Tapi kali ini, keputusanku untuk kembali kesini nampaknya
adalah keputusan yang salah. Karena sejak 3 jam lalu aku
duduk disini, hatiku tak kunjung membaik. Luka lama yang
biasanya cepat menutup kembali, kali ini malah menganga
makin lebar. Seharusnya aku tidak kesini hari ini, terutama
setelah adanya kejadian seminggu lalu itu. Tapi lagi-lagi
aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak kembali kesini.
Tetes terakhir cappucino di gelasku sudah mengering. Aku
menatap jendela, rasanya ingin menangis. Tapi mungkin air
mataku sudah mengering seperti kopi dalam cangkirku itu,
karena sejak tadi mataku tak kunjung mengucurkan air
mata padahal hatiku ngilu sekali dan sepertinya hanya bisa
sembuh bila aku mengalirkannya lewat air mata.

“Maaf mas, bisa minta cappucinonya lagi?” tanyaku pelan
saat seorang waitress melintasi mejaku.
Waitress itu menatapku agak heran. “Maaf mbak, tapi
mbak sudah menghabiskan 4 cangkir cappucino sejak tadi,”
ujarnya.
Aku mengangkat alis. “Lalu?”
“Maaf mbak, saya tidak bermaksud lancang, tapi saya
perhatikan mbak belum makan apa-apa sejak tadi. Jadi
saya sarankan mbak jangan minum kopi lagi. Saya khawatir
lambung mbak akan terganggu,”
Aku menghela nafas. Aku ingin mendebat waitress itu tapi
aku tak punya cukup tenaga. “Kalau begitu saya pesan air
putih saja,”
“Baik, mbak. Bagaimana kalau saya bawakan juga cake atau
puding?”
“Nggak usah mas, makasih.”
“Baik mbak akan segera saya bawakan air putih.” Waitress
itu menganggukkan kepalanya lalu kembali meninggalkanku
sendirian.

Hujan di luar masih belum berhenti juga, malah semakin
deras. Angin dingin menyergap masuk melalui kisi-kisi
jendela di sampingku. Biasanya di saat-saat seperti ini ada
tangan-tangan hangat menggosok punggung tanganku, atau
mendekapku mendekat untuk mengalirkan kehangatan. Ahh,
seperti biasa aku selalu tak bisa mencegah memori-memori
itu merasuki kepalaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku,
mencoba menepisnya. Namun semakin aku mencoba,
semakin bayangan-bayangan itu memenuhi kepalaku.
Aku tak akan pernah bisa melupakan suaranya. Bahkan
setelah setahun kepergiannya, aku masih bisa mengingat
jelas caranya memanggil namaku, atau saat mengucapkan
kata-kata yang bisa membuat hatiku melambung. Aku sudah
hampir bisa melupakannya, ingin memulai hidup yang baru
karena akhirnya aku sadar bahwa aku telah menyia-
nyiakan setahun hidupku hanya untuk meratapi
kepergiannya. Aku sudah benar-benar melupakannya
seminggu yang lalu, sebelum akhirnya panggilan itu datang.
Sebuah telepon dari nomor tak dikenal masuk ke
handphone ku. Aku mengangkatnya, dan ketika mendengar
suara sapaan dari seberang, aku tahu bahwa ternyata aku
belum benar-benar bisa melupakannya.

“Apa kabar?”
Aku menahan nafas ketika mendengar suaranya. “Abi?”
“Iya Nanda. Ini aku, Abi.”
Mataku memanas. Bahkan setalah 1 tahun, suaranya sama
sekali tidak berubah. Suara yang teramat sangat aku
rindukan.
“Aku harus bicara sama kamu, Nan. Kita harus ketemu.
Kamu mau kan?”
Aku terdiam. Lalu tanpa pikir panjang aku langsung
menutup telepon, kemudian memandangi handphone ku
dengan mata berair dan tangan gemetar. Lalu selama hari-
hari berikutnya aku selalu mengabaikan semua panggilan
darinya, menghapus semua sms masuk darinya tanpa
membacanya, dan akhirnya mulai berani membuang satu
persatu benda kenangan darinya agar tak lagi bisa
mengingat dirinya. Karena seharusnya ia tidak datang lagi.
Seharusnya ia sudah hilang ditelan waktu. Kenapa kali ini
dia harus kembali lagi? Padahal aku sudah berhasil menutup
rapat-rapat luka lamaku. Kenapa dia harus kembali lagi di
saat aku sudah bisa mengenyahkan semua bayang-
bayangnya?

Aku menarik nafas panjang. Mencoba menghilangkan sesak
yang kembali menghimpit dada.
“Permisi, mbak. Ini air putihnya.”
Suara seorang waitress mengembalikanku lagi dari lamunan.
“Oh iya mas, makasih.” ujarku tanpa menoleh.
“Ternyata masih belum berubah, ya. Tempat duduk yang
sama, jendela yang sama, cappucino yang sama..”

Aku mengangkat kepalaku dengan cepat. Lalu menemukannya
di sana, dengan senyum yang sama sama sekali belum
berubah, masih sehangat dulu.
“Apa kabar, Nan?”
Sesaat tadi aku tidak menyadari suaranya, tapi ketika
suaranya kembali menggaungi telingaku, aku sadar bahwa
ini bukan mimpi.
Ia duduk di hadapanku setelah meletakkan air putih di
meja, kemudian menatapku.
“Seharusnya aku tau kemana harus nyari kamu, Nan. Aku
sama sekali gak berpikir kalo kamu bakal kembali ke
tempat ini. Aku pikir kamu pasti gak akan kembali kesini
karena dulu kamu pernah bilang kalau kamu ingin melupakan
segala sesuatu tentang aku. Tapi ternyata aku salah.
Karena ternyata semuanya masih belum berubah. Tempat
ini masih menjadi tempat dimana aku bisa menemukan
kamu.” Senyumnya mengembang. Lalu matanya berkeliling
memandang setiap sudut kafe itu dengan pandangan penuh
kenangan.

Aku menutup mata, merasakan ngilu merayapi sudut-sudut
hatiku. Aku memang tak seharusnya ada disini. Aku harus
pergi, karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah
bisa melepaskannya lagi.
Aku membereskan barang-barangku secepat mungkin,
memasukkannya asal saja ke dalam tasku, lalu bangkit
berdiri.

“Nanda!” Abi menahan tanganku. “Tolong jangan
ngehindarin aku terus. Aku harus bicara sama kamu, Nan.”
Aku menepis tangannya. “Aku nggak tau apa yang ngebawa
kamu kesini lagi. Tapi yang jelas aku udah gak punya urusan
lagi sama kamu. Jadi maaf, aku harus pergi.”
“Nanda, tunggu!”
Aku bergegas menuju kasir untuk membayar semua
pesananku tanpa menghiraukan jumlahnya lalu setengah
berlari menuju pintu keluar.
Air mataku nyaris tumpah. Melihatnya lagi membuatku
semakin goyah.

Saat aku mencoba berlari menerobos hujan, Abi berhasil
menangkap tanganku. Ia menarikku menghadapnya.
“Nanda,” Abi menghela nafasnya yang agak tersengal.
“Lepasin tangan aku, Bi.”
Abi menguatkan pegangan tangannya di lenganku. “Kamu
gak tau kan gimana frustasinya aku seminggu ini? Tolong
dengerin aku kali ini aja, Nan. Tolong jangan ngehindar
lagi,”
“Lepas!” Aku memberontak.
Abi menarik tanganku yang satunya. “Nanda... aku kangen
sama kamu,”
Aku menatap matanya, lalu menemukan sesuatu yang dulu
selalu kutemukan setiap kali ia mengatakan bahwa ia
mencintaiku.

“Aku kangen kamu, Nan.”

Air mataku tiba-tiba menetes.
Aku juga kangen kamu, Bi.

Jumat, 17 Mei 2013

Right from the start you were a thief you stole my heart. And I your willing victim. I let you see the part of me that weren't all that pretty. And with every touch you fixed them. 
 
 

Make A Move?

This morning after blurted out everything on my mind to myself, suddenly I feel like crying.
Many thoughts in my mind now..
About how I keep regretting my decisions
About how I wish I could restart my life from the start
About how I should manage my future
About my last love which was hurting me so bad but I still couldn't just move on
About everything.

But life is too short to regret on.
God gives me life, gives me a lovely family, friends, love, gives me health, gives me perfect experiences. So there's no something I could regret at all.

So start from today, with Allah's bless, I wish everything will be more and more fine.

Dear Allah,
I lean my wishes to You, my prays to You..
If it's good for me, please bless me and show me the way.

Amin.

-Saturday dawn, May 18-

Selasa, 16 April 2013

Hati dan Akal Bicara Cinta

Hati dan Akal Bicara Cinta

Akal : Assalamualaikum, sahabat.

Hati : Waalaikumussalam...

Akal : Apa khabar iman anda?

Hati terdiam...

Akal bertanya sekali lagi.

Akal : Apa kabar iman anda?

Hati : Kurang sehat mungkin.

Akal : Mengapa?

Hati : Aku merindui dia segenap jiwaku...

Akal : Dia yang mana, sahabatku..?

Hati : Kedua dia. Dia yang hakiki, juga dia yang entah kemana akhirnya..

Akal : Tidak mengapa, Itukan fitrah manusia.

Hati : Tapi rinduku kepadanya kadangkala membuat jiwaku galau.

Fikiranku melayang terbang jauh ke angkasa. Kadangkala ketika beribadah juga aku teringat dia.

Akal : Cintamu padanya, juga cintamu pada-Nya, cinta padaNya kan yang lebih utama.

Hati : Tapi... Aku benar cinta dia.

Aku benar rindu dia.

Aku mencintainya karena Allah. Kami saling menasehati kepada kebaikan.

Aku mau mengejar surga bersamanya.

Akal : Apa makna cinta..?

Hati : Kasih dan sayang.

Akal : Bagiku cinta itu gila.

Hati : Mengapa..?

Akal : Apabila kita mencintai seseorang, kita asyik teringat dia.

Apa yang dikata jangan, sebaik mungkin kita elakkan. Apa yang diminta, boleh mungkin kita usaha.

Bila ada yang lain mendekati, bergolak rasa cemburu.

Apa kau rasa begitu..?

Hati : Ya. Begitu yang aku rasa.

Akal : Apa kau tahu apa itu ibadah..?

Hati : kata orang ibadah itu taat dan patuh.

Akal : Ibadah itu juga adalah cinta.

Hati : Bagaimana maksudnya..?

Akal : Ibadah itu cinta. Berkasih-kasihan dengan Tuhan.

Hati terdiam lagi...

Hati : Jadi... Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan wahai akal?

Akal : Fikirkan, kalau kau benar mencintai dia karena Allah, apa kau ada mengadu kepadaNya..?

Hati : Aku puas sudah berdoa. Aku mendoakannya empat puluh kali setiap hari. Siang dan malam..!

Tegas hati..

Akal : Apa kau berdoa kepada-Nya hanya karena apabila kau terasa jauh dengannya..?

Apa kau hanya melipat gandakan ibadahmu ketika jiwamu rasa tak tenang..?

Hati diam dan tertunduk...

Akal : Bagaimana bisa kau katakan cintamu karena Allah. Sedangkan kau mengabaikan Dia ketika cintamu dengannya sedang indah bercahaya. Sabarlah wahai hati.

Doamu mungkin tidak terkabulkan sekelip mata. Barangkali Allah akan mengabulkannya di lain waktu. Barangkali Allah ada hadiah yang lebih berharga untukmu..!

Aliran sungai merah terasa semakin deras mengalir ke kepala...

Akal : Cinta kepada manusia yang gila seperti itu, hanya layak disandarkan kepada Allah. Allah menarik cintamu kerana Allah lebih mencintaimu.

Allah merindui doa dan tangisan hambanya. Allah mau kau kembali mengindahkan cintamu kepadaNya..!

Hati mulai menangis... Sepi... Kesal..


sumber: Islamic Motivation

Minggu, 14 April 2013

kamu jahat

Kamu jahat.
Kamu rusak semua mainan aku.

Kamu bahkan ninggalin aku di tengah-tengah permainan.

Kamu jahat.
Aku nggak mau main lagi sama kamu.

Aku mau bilang mama kalau kamu jahat.
Balikin semua mainan aku yang pernah kamu pinjem :(

Kamu jahat.
Aku nggak suka anak jahat.
:(

Sabtu, 13 April 2013

afraid

When I start a new relationship, I always feel afraid that it won't last forever.
That the one you love will leave you for unreasonable reasons.

It happened. It happens. And it will happen.

Selasa, 02 April 2013

From Bandung to London

How far is London from here?
It's 6 hours difference.

Start from June, everything will be different.

Indonesia to United Kingdom

Belajar dari Lulusan SD dan Penjual Nanas



Beberapa waktu yang lalu sepulang kuliah, temen saya, sebut saja namanya Rindu, cerita tentang temen sekelas kita. Temen-temen saya di pascasarjana itu memang datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang sudah jadi dosen di universitas, ada guru SMA, ada yang fresh graduate, ada yang berbisnis, ada yang sudah bekerja di perusahaan Jepang, dan ada juga yang pengangguran (seperti saya, hehehe). Beberapa di antara mereka juga sudah ada yang menikah dan akan segera menikah (yang single juga masih banyak kok. hahaha).

Nah jadi, temen saya itu cerita tentang dua orang temen sekelas kita yang cukup membuat saya tercenung, takjub, dan jadi berkaca pada diri sendiri. Cerita pertama datang dari seorang temen sekelas kita yang sudah menikah. Baru satu tahun setengah menikah, kalau tidak salah, tapi belum dikaruniai anak. Awalnya dia cerita basa-basi soal kehidupan dia, bagaimana dia dapat beasiswa untuk sekolah pascasarjana, dan lain-lain hingga pada cerita tentang suaminya. Setahu saya, suaminya itu adalah seorang pebisnis, aslinya orang Padang, jadi Teh Sinta (nama temen saya yang sedang saya ceritakan. Nama disamarkan) selalu memanggil suaminya dengan panggilan 'uda'. Cerita punya cerita, ternyata suaminya itu pendidikan terakhirnya hanya SD! Bahkan katanya SD pun nggak tamat. 

Saya kaget bukan main. Teh Sinta di kelas itu saya kenal sebagai orang yang pintar, cerdas, dan juga sangat cakap dalam menjelaskan sesuatu, tentang pelajaran, misalnya. Bagaimana tidak, dia adalah seorang dosen sekaligus guru SMA di Bekasi. Sebelumnya dia juga sudah sering ngajar dari satu tempat les ke tempat les lain. Jam terbang ngajarnya bisa dibilang sudah cukup tinggi. Sehingga tidak heran beliau dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di pascasarjana. Tapi ternyata suaminya hanya seseorang yang tingkat pendidikannya jauh lebih rendah daripada dia.

Sewaktu sebelum menikah, dia sempat mendapat banyak tentangan keras dari kedua orang tuanya, mengingat status sosial mereka yang cukup jauh. Padahal sebelumnya Teh Sinta ini sudah akan menikah dengan seorang sarjana lulusan universitas di Australia. Tapi mungkin karena memang bukan jodohnya, mereka tidak diperkenankan menikah dan akhirnya Teh Sinta malah menikah dengan seseorang yang sekarang selalu dipanggilnya 'uda'. Orang tua uda sudah meninggal dua-duanya sejak dia umur 11 tahun dan dia tidak punya sanak saudara lain. Itu sebabnya beliau harus berjuang sendirian sejak usia 11 tahun untuk dapat bertahan hidup. Beliau merantau dan mencari pekerjaan untuk biaya hidup. Hingga beliau sampai di pulau Jawa. Sekarang usaha beliau adalah membuka toko kelontong di depan rumahnya di Bekasi untuk menafkahi dirinya dan istrinya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban mental yang harus ditanggung oleh keduanya. Gunjingan dari tetangga atau orang-orang terdekat pasti selalu ada. Tapi mereka berdua tidak pernah merasa terbebani, malah tampak selalu ceria dan romantis. Banyak kekaguman yang ingin saya sampaikan pada mereka berdua. Di zaman sekarang yang kebanyakan masyarakat menilai pangkat, jabatan, pendidikan, dan status sosial sebagai sebuah patokan sebuah keberhasilan atau kesuksesan, mereka berdua membuktikan bahwa sebenarnya hal seperti itu sama sekali tidak penting. Mereka berdua tetap bisa hidup berdampingan dan bahagia meskipun dengan status sosial yang berbeda. Bahkan katanya, Teh Sinta sering mengajarkan hal-hal sederhana tentang cara operasional TV misalnya, apa itu kuliah, kepada suaminya dengan begitu sabar. Saya melihatnya sebagai hal yang lucu dan romantis.

Lalu teman saya menceritakan kisah yang kedua. Cerita ini datang dari teman sekelas kita yang baru, namanya Judika. Kesan pertama saya terhadap laki-laki ini sebenernya kurang begitu bagus. Kenapa? Karena kalau datang ke kelas dia selalu terlihat mengantuk dan dengan penampilan kusam, bahkan terkadang dia terang-terangan tidur di kelas. Tapi semakin hari saya semakin tahu kalau ternyata dia itu cerdas dan juga kritis. Meski terkesan seperti tidak memperhatikan isi kuliah, ternyata dia selalu menyimak apa yang disampaikan oleh dosen di kelas. Dia juga supel dan senang bercanda kalau kita mau mengenalnya lebih dekat.

Awalnya Judika ngobrol sama Rindu soal kapan Rindu datang ke Bandung setiap minggunya. Rindu bilang dia selalu datang setiap Rabu malam sekitar jam 8 (jadwal kuliah di pascasarjana hanya dari hari Kamis-Sabtu). Jadi setelah habis mengajar di Bekasi, Rindu langsung berangkat ke Bandung sore harinya. Rindu nanya balik kan sama Judika setiap kapan dia datang ke Bandung, dan Judika bilang dia selalu datang ke Bandung Rabu tengah malam, atau kadang sudah masuk Kamis dini hari, karena dia harus kerja dulu. Setelah nanya-nanya lebih lanjut tentang pekerjaan Judika, ternyata Judika itu punya usaha sendiri. Usaha apa? Jualan nanas di pasar induk.

Saya kaget. Jualan nanas? Iya, nanas. Dia bilang orangtuanya sudah tua dan tidak bekerja, jadi dia yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga dengan berjualan nanas di pasar induk. Makanya dia selalu datang tengah malam ke Bandung karna katanya nunggu dagangan habis. Tapi kalau hari-hari biasa seperti sekarang, penjualan nanas memang nggak terlalu bagus. Paling banyak ya cuma dapat 500 ribu - 1 juta, itu pun harus dipakai untuk modal lagi dan biaya sewa jongko di pasar. Kalau menjelang lebaran, nah baru penjualan nanas meningkat, bahkan omzetnya bisa sampai 50 juta, begitu ceritanya.

Jadi ternyata itu alasannya kenapa dia selalu terlihat mengantuk di kelas, terlihat malas-malasan, bahkan penampilannya terkesan kusam. Karena dia ternyata habis menjaga jongko nanas di pasar.

Subhanallah..
Cuma itu satu-satunya kata yang keluar dari mulut saya waktu mendengar cerita itu. Di zaman sekarang ini, dimana kebanyakan orang mendambakan pekerjaan yang ideal, kerja kantoran dengan gaji tinggi, dia bisa merasa cukup hanya dengan berjualan nanas. Dan yang membuat saya lebih kagum lagi, dia membiayai sendiri biaya kuliah pascasarjana. Meski dengan segala keterbatasan, dia tetap punya semangat untuk melanjutkan kuliah hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Teman saya itu membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk memperoleh pendidikan, tidak ada hambatan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi, asal kita mau berusaha.


Saya, yang biaya hidup dan biaya kuliah masih dibiayai oleh orang tua jadi merasa malu sendiri. Ternyata di dekat saya, banyak orang-orang hebat seperti mereka. Memang dalam hidup itu kita jangan selalu melihat ke atas. Capek.
Banyak orang-orang hebat kalau kita mau menundukkan kepala dan mendengar cerita mereka.
Di luar sana, di kelas-kelas lain di gedung pascasarjana ini, saya yakin masih banyak orang hebat selain dari kedua orang teman saya di kelas ini.

Terima kasih untuk pelajaran hidup hari ini.

-2 April 2013-

Selasa, 19 Maret 2013

mimpi

mungkin tadi malam aku tidur terlalu lelap
hingga jatuh pada mimpi yang terlalu dalam

aku melihat seorang pangeran di atas kuda putihnya
mengulurkan tangannya padaku
menyunggingkan senyum yang tak mampu dikalahkan matahari

dia beri aku kotak-kotak coklat
juga kotak musik dengan balerina menari cantik di dalamnya

dia bawa aku bermain ke istana emasnya
dia bilang istananya jadi lebih cantik karena aku masuk kesana
dia bilang kalau dia mau aku disini, sampai rambut kita berubah jadi abu-abu

lalu,
aku tidak tahu ini ulah siapa
mungkin saja ulah nenek sihir yang ingin mengujicoba mantra sihir barunya
atau ulah kakak-beradik saudara Cinderella yang iri karena aku mendapat si tampan
karena tiba-tiba saja, aku terjatuh dari kursi yang disediakan pangeran

saat aku membuka mata, kupikir ini mimpi
karena aku tidak lagi melihat atap-atap tinggi dengan hiasan lampu gantung mewah
pilar-pilar kokoh yang tak bisa kuhitung jumlahnya
kursi-kursi singgasana juga karpet-karpet tebal yang empuk
aku juga tidak dapat menemukan pangeran dimanapun

yang justru kulihat adalah atap kotor yang hampir lapuk karena sering terkena rembesan air hujan
dinding kusam yang sebagian penuh oleh coretan dan tempelan poster
dan karpet jelek yang sama sekali tidak dapat menahan gigitan dingin di malam hari

dan aku sendirian

kotak-kotak coklat
kotak musik dengan balerina cantik
juga ikut hilang

saat merasa sebutir cairan hangat meleleh di pipiku
aku baru sadar

mungkin
tadi malam sebelum aku tidur
aku terlalu banyak berharap pada mimpi

atau mungkin lupa berdoa
agar aku tidak ditelan mimpi


-tengahmalamsaattakbisatidur20032013jam01:44-

Selasa, 05 Maret 2013

another monthsary!

So, yesterday was our 3rd month!
March 5, 2013
Happy monthsary baby~
I love you!

Anyway, this is the letter for you.
page 1

page 2

page 3

And..
I got this cute cookie as a gift. He said it supposed to be "I love you" cookies, but then his little sister ate them all so it's only the heart-shaped cookie left. Hahahah xD
But it's sooooooooooooo cute. I couldn't even imagine how did he bake the cookies.
But anyway, thank you babe :3


love cookie <3
But then I got another surprise last night, this cute love letter!



All thank you for you!!
I got to go now babe, my prof's waiting~

Good luck for your exams today, soon to be a doctor! *chuckles*
And get me 26 of A's! :3


March 6, 3013
-peach xoxo-

Jumat, 15 Februari 2013

another piece

Got this as my valentine's present. And I couldn't help but melt.

Love you, babe.

The Man Who Can't Be Moved (piano cover)

Selasa, 12 Februari 2013

SD DI INGGRIS VS SD DI INDONESIA

Intan Eka Wulandari
Mahasiswa Pascasarjana UPI, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

Membaca artikel yang ditulis oleh A Chaedar Alwasilah, seorang Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tentang SD di Inggris, membuka pikiran saya tentang bagaimana jauh berbedanya kondisi SD di Inggris dan SD di Indonesia. Dalam artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat pada hari Selasa 16 Oktober 2012 tersebut beliau mengungkapkan bahwa sistem pengajaran yang dilakukan di tingkat sekolah dasar di Inggris sangat jauh berbeda dengan sistem pengajaran di Indonesia.

Murid sekolah dasar di Inggris tidak menggunakan buku teks dalam pembelajaran. Mereka hanya diberikan PR dalam 2-3 halaman untuk dikerjakan dengan bantuan orangtua. Tidak pernah ada PR yang dikerjakan di buku teks. Mereka mencari wawasan dan informasi sebebas-bebasnya sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing melalui pusparagam buku yang disediakan di perpustakaan sekolah berupa buku sastra anak, biografi para tokoh dunia, cerita petualangan, kamus bergambar, ensiklopedia, dan sebagainya. Murid ditugasi membaca sebanyak mungkin sesuai dengan minatnya kemudian melaporkannya dalam bentuk tulisan, atau melaporkannya secara lisan di dalam kelas. Di dinding dan meja murid di setiap kelas terpajang buku-buku bacaan, portofolio, hasil penelitian murid yang dipamerkan sebagai bukti kerja mereka.

Untuk melatih motorik, harmoni, gerak, dan kreativitas nada, terdapat mata pelajaran menari dan musik yang diselenggarakan lintas kelas pada jam tertentu di aula besar yang dapat menampung 200-500 orang. Mata pelajaran yang termasuk dalam foundation curiculum ini dibimbing oleh seorang guru tari profesional.

Melihat fakta-fakta di atas, secara otomatis saya langsung membandingkan dengan kondisi sekolah dasar di Indonesia. Seorang guru SD di Indonesia rata-rata menjadi guru untuk seluruh mata pelajaran yang diajarkan di SD, sehingga tidak terfokus pada satu mata pelajaran saja. Selain itu, banyaknya jumlah murid di dalam kelas, yang bahkan mencapai 50 orang lebih di dalam satu kelas, menyebabkan guru terkadang tidak efektif dalam menyampaikan pelajaran. Kondisi ini juga menyebabkan guru tidak dapat mengontrol seluruh siswanya dengan maksimal, sehingga tidak jarang murid-murid gaduh, bahkan berkelahi di dalam kelas. Selain itu pula, kondisi kelas-kelas SD di Indonesia tidak layak. Dinding kelas yang retak-retak, atap bocor, tidak memiliki pintu ataupun jendela, bahkan terdapat kelas yang hanya berdinding bilik atau kayu dan beratap seng.

Melihat kondisi kelas di Indonesia yang seperti itu, rasanya begitu jauh bila dibandingkan dengan SD di Inggris. Dengan fasilitas pendidikan yang masih serba terbatas di sekolah-sekolah di Indonesia, rasanya sulit untuk menyamai kualitas SD-SD di Inggris. Saat ini memang sudah banyak sekolah-sekolah di kota besar yang sudah dilengkapi dengan fasilitas lengkap. Para siswa dapat mengakses informasi seluas-luasnya melalui fasilitas yang disediakan. Namun kenyataannya, di pelosok-pelosok negeri, masih banyak sekolah yang kondisinya tidak layak. Padahal banyak anak-anak Indonesia di pelosok yang masih haus pendidikan tetapi tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak karena kurangnya fasilitas.

Saya teringat sebuah percakapan singkat dengan seorang kerabat yang tinggal di daerah pedesaan beberapa bulan yang lalu. Saya menceritakan tentang bagaimana hebat dan majunya sekolah di kota, yang lengkap dengan fasilitas komputer dan internet, pengajaran dengan menggunakan bahasa Inggris, dan berbagai keunggulan lainnya. Beliau hanya mendengarkan saya dengan takjub, lalu sebaris komentar singkatnya membuat saya tertegun, “Ah, sekolah seperti itu kan hanya untuk orang kaya saja. Bagi kami yang tinggal di kampung, bisa sekolah saja sudah untung,” komentarnya dalam bahasa Sunda, sambil tersenyum-senyum. Saya jadi tidak bisa berkata-kata lagi, miris. Saya berpikir bahwa ternyata pendidikan di negara ini masih dianggap sebagai sesuatu yang mahal, padahal semua orang berhak mendapatkan pendidikan.

Buku Indonesia Mengajar

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang berjudul “Indonesia Mengajar” yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Buku  tersebut memuat kisah para pengajar muda yang mengajar di pelosok-pelosok negeri hingga ke pedalaman. Buku ini membuka pikiran saya bahwa ternyata memang masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang haus akan pendidikan. Dengan segala keterbatasan mereka, dengan minimnya fasilitas belajar yang mereka miliki, mereka begitu bersemangat dalam mencari ilmu. Bahkan mungkin, semangat belajar mereka lebih besar daripada anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas.

Lewat cerita-cerita para pengajar muda itu tentang anak-anak negeri yang semangat belajar dengan segala kekurangan mereka, saya sekarang meyakini satu hal, bahwa pendidikan di Indonesia dapat lebih maju, semaju pendidikan di Inggris, bahkan mungkin lebih maju. Tinggal kita mulai dari diri kita sendiri, meyakini bahwa kita dapat memajukan pendidikan di Indonesia lewat semangat anak-anak bangsa yang ingin belajar. Termasuk saya, memulai dari diri saya sendiri.


12 Februari 2012
@ Gd. Pascasarjana UPI

Senin, 04 Februari 2013

My first stop motion video

I just want to share this.
This is my first stop motion video which I dedicated for someone special who lives far far faaar away from me. But he always make me smile, laugh, and happy.

Happy 2 monthsary, babe.

I love you so much.



"stars shine brightly in up in the night sky, but you, you shine bright in my heart."

"Heaven's wherever you are."

"I love you too, princess. Your handsome knight in shining armor loves you so much."

"and everyday is just that much sweeter because i know i'll get to see you and your beautiful smile."

Saat kamu meleleh

Katanya bulan februari itu bulan cinta.
Katanya.

Berhubung saya sedang jatuh cinta,
jadi saya setuju untuk kali ini.

Dan yang ini indah.

Siapa yang tidak meleleh diberi potongan musik dari piano yang ia mainkan sendiri?
Diberi juga potongan musik dari biola.

Sampai-sampai saya tidak bisa menahan lelehan air mata.
Terharu.

Karena terlalu indah.

Home by Michael Buble (piano cover)
Home

Just The Way You Are by Bruno Mars (violin cover)
Just The Way You Are


Cover by him
<3

Minggu, 03 Februari 2013

Si Pulau Para Dewa



Bali!

Iya, Bali.

Jadi akhirnya, sekitar dua minggu yang lalu (16-19 Januari 2013), saya akhirnya berhasil juga menapakkan kaki saya di tanah dewata. Untuk tujuan penelitian kuliah (tadinya) hehehe.
Sejak bulan September 2013 dan setelah keluar dari pekerjaan saya, saya terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa Jepang.

Ceritanya, dalam mata kuliah Pemerolehan Bahasa Kedua atau dikenal juga dengan istilah Second Language Acquisition, kita ditugaskan untuk mewawancarai orang-orang yang di dalam kehidupan sehari-harinya sering menggunakan bahasa kedua untuk berkomunikasi. Terpilihlah Bali, karena pada saat itu, daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah sudah pernah diperoleh datanya oleh kakak-kakak kelas kami sebelumnya. Jadi singkat cerita, berangkatlah kita ke Bali.

Tapi ujungnya sih, disana juga bukan penelitian. Banyaknya main, hihihi. Disana kita mewawancarai masyarakat setempat yang sebagian besar mata pencahariannya adalah di bidang pariwisata. Jadi pada umumnya mereka dapat menguasai bahasa asing untuk dapat berkomunikasi dengan turis yang berkunjung ke Bali.
Mereka cuma bisa greetings, atau kosakata yang mudah saja dalam bahasa Inggris. Rata-rata tidak tahu menahu tentang grammar atau tata bahasa.

Jadi ya intinya, di Bali kita liburan! :D

Kalau bukan karna tujuan kuliah juga, kapan lagi saya bisa ke Bali? Jadi ya intinya senang-senang~
hehehehe.

Trip di Bali kemarin memang melelahkan, tapi juga menyenangkan. Kita mengunjungi hampir semua objek wisata Bali mulai dari daerah selatan sampe utara Bali.
Memang gak semua sih.
Jadi kita satu kelas kemarin nyewa bus yang cukup untuk sekitar 35 orang seharga 6 juta rupiah untuk 4 hari dan siap mengantar kita kemana-mana.

Hari pertama kita sampai di Bali, kita langsung menuju daerah Ubud dan berkeliling di daerah sana sebentar, lalu melanjutkan perjalanan hingga Padang Bai. Disana kita menginap di sebuah homestay bernama Parta Inn, sebuah tempat dekat pelabuhan tempat menyebrang menuju Lombok.

Pagi-paginya kita packing lagi, dan berangkat menuju sebuah desa kuno di Bali bernama Desa Tenganan. Kalau di Banten, daerah itu mungkin tempat suku Badui tinggal, jadi masih betul-betul kuat adat istiadatnya.

Desa Tenganan
Dari desa itu, kita menuju tempat yang bernama Taman Ujung. Konon katanya, taman itu tamannya raja Bali jaman dulu. Kalau di Jogja ada yang namanya Taman Sari, nah ini juga taman yang mirip seperti itu tapi lebih luuuuuuuuuuuuuas. Sayangnya waktu ke taman itu saya gak bawa kamera, jadi saya tidak sempat foto-foto.
Dari Taman Ujung, kita menuju Singaraja, dan sempat mampir di Kintamani, melihat gunung Batur.


Gunung Batur


Melanjutkan perjalanan lagi menuju Singaraja, makan malam di pantai Lovina dan menginap di salah satu motel di daerah Singaraja.

Pantai Lovina, Singaraja, Bali

Hari ketiga, pagi-pagi kita packing lagi dan kali ini menuju ke danau Beratan di daerah Bedugul yang terkenal dengan Pura Beratan-nya. Kalau punya uang rupiah 50 ribuan, bisa dilihat, pura yang kami kunjungi ini adalah pura yang ada di uang 50 ribu itu. :D

Nih kalo yang mau liat gambarnya:


Dan ini foto kita disana:


Sama kan backgroundnya?
:D

Dari sana, kita menuju ke Sanur dan berenang seharian sampe kulit item.
Lalu kami lanjutkan perjalanan menuju Tanah Lot untuk menginap di sekitar sana juga.


yang ini saya nyolong fotonya temen saya, gak papa lah yaaa :p
Lalu terakhir, Tanah Lot!
Hari itu kita harus pulang, jadi pagi-pagi banget sekitar jam 6 kita sudah packing dan siap-siap untuk melihat Tanah Lot. Jadi foto saya di bawah ini diambilnya subuh-subuh.
Pengennya lihat sunrise disana tapi ternyata kalau jam 5 ke kawasan pantai Tanah Lot masih dilarang karena katanya berbahaya.


narsis di Tanah Lot
Setelah itu, selesailah liburan saya.
Gak lama, tapi menyenangkan.

Moga bisa ke Bali lagi, amin!
Karena memang Bali itu luar biasa indahnya. saya aja terpesona. fiuhhhh.
Bali Bali Bali.....!!